Bagaimana perasaan Anda ketika dalam komunitas Anda ada orang yang baru bergabung lalu tiba-tiba dia menginterupsi pembicaraan dalam rapat? Pemilihan kata yang tidak tepat menimbulkan makna yang tidak jelas. Intonasi yang keras memberi kesan meremehkan pendengarnya. Tentu perasaan Anda tidak nyaman, bukan? Sebagai anggota baru akan lebih baik mendengarkan dari berbagai sudut pandang mengenai topik pembicaraan terlebih dahulu sehingga dapat memberikan pendapat dengan lebih tepat.
Mendengarkan merupakan upaya menangkap pesan dan memahami makna sekalipun tidak diungkapkan dengan kata-kata, sehingga aktivitas mendengarkan membutuhkan keterampilan. Tidak semua orang dapat mendengarkan dengan baik, bukan karena pendengarannya tidak normal namun karena tidak memiliki kesabaran, kerendahan hati, dan kerelaan memberi ruang bagi orang lain.
Ketika orang berbicara dengan kita, sering kali pikiran kita sibuk menyiapkan respons atau sibuk menilai benar atau tidaknya pembicaraan kawan bicara. Padahal mendengarkan berarti kita hadir sepenuhnya dalam pembicaraan tersebut untuk mendengarkan dengan saksama, memperhatikan ekspresi wajah, intonasi, dan bahasa tubuh kawan bicara sehingga kita dapat memahami setiap informasi dan dapat meresponsnya dengan tepat.
Tatkala firman Tuhan diberitakan dari atas mimbar, kita bisa menyaksikan berbagai respons jemaat yang hadir. Ada banyak jemaat yang benar-benar tekun mendengarkan firman Tuhan sambil aktif mencatat bagian-bagian yang menurut mereka penting sehingga ketika mereka keluar dari gereja, mereka mendapat berkat karena mendengarkan firman Tuhan dengan saksama. Namun, ada juga yang sebaliknya, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa.
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dua telinga dan satu mulut. Itu berarti seharusnya manusia lebih cepat mendengarkan dan lambat untuk berkata-kata. Lebih banyak mendengar terlebih mendengarkan firman Tuhan, sebab iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Mendengarkan adalah cikal bakal ketaatan. Sudahkah kita belajar mendengarkan?
Yudi Hendro Astuti | Sobat Media – Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Foto: pch.vector on Freepik

