Suatu hari seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, ”Mana yang lebih hebat, matahari atau bintang?” Ayahnya tersenyum, namun tidak langsung menjawab.
Malam itu anak itu memandangi langit. Ribuan bintang berkelip, lembut namun setia. Mereka tidak menyilaukan, tetapi menghadirkan ketenangan. Dalam diam mereka menjaga malam dari kegelapan yang terlalu pekat. ”Indah sekali…,” bisiknya.
Namun ketika pagi datang, semuanya berubah. Matahari terbit dengan gagah. Cahayanya mengusir gelap, menghangatkan bumi, dan membangunkan kehidupan. Tidak ada satu pun bintang yang tampak. Anak itu kembali bertanya, ”Jadi… matahari lebih hebat, ya?” Ayahnya menggeleng pelan. ”Tidak. Mereka tidak bisa dibandingkan.”
Anak itu terdiam. ”Matahari tidak pernah mencoba bersinar di malam hari,” lanjut ayahnya, ”dan bintang tidak memaksa dirinya menggantikan matahari di siang hari. Mereka tahu waktu mereka dan setia pada perannya.” Anak itu mulai mengerti.
Begitulah manusia. Di zaman ini kita sering merasa hidup orang lain lebih terang. Kita melihat pencapaian di layar kecil, lalu diam-diam merasa redup. Kita membandingkan langkah, hasil, bahkan berkat, seolah hidup adalah perlombaan.
Padahal setiap orang punya waktunya. Ada yang bersinar seperti matahari, terlihat dan cepat dikenal. Ada yang seperti bintang, tenang, tersembunyi, namun bermakna. Masalahnya bukan siapa lebih terang, melainkan apakah kita setia pada terang kita.
Rasul Paulus pernah mengingatkan, ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri, baru ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain (Gal. 6:4).”
Malam itu anak itu berkata pelan, ”Aku mau bersinar pada waktuku.” Ayahnya tersenyum. Antara bintang dan matahari tidak dapat dibanding-bandingkan karena mereka bersinar pada waktunya masing-masing.
Repelita Tambunan | Sobat Media
Foto: Unsplash/David Billings

