Di suatu sore yang tenang Arga berlari mengejar seekor kupu-kupu kuning yang berkilau di bawah cahaya matahari. Ia berlari semakin cepat, melompat, bahkan hampir terjatuh. Namun, setiap kali ia merasa hampir menangkapnya, kupu-kupu itu justru terbang lebih tinggi dan semakin jauh. Napasnya tersengal. Hatinya kesal. ”Kenapa semakin aku kejar, semakin ia menjauh?” gumamnya.
Di tepi jalan seorang lelaki tua sedang merawat kebunnya. Ia memperhatikan Arga dengan tenang lalu berkata, ”Kupu-kupu tidak akan pernah datang pada orang yang mengejarnya.”
Arga menoleh, bingung. Lelaki itu menunjuk kebunnya—penuh bunga bermekaran, warna-warni yang hidup, dan harum yang menenangkan. Di sana kupu-kupu beterbangan bebas, seolah menemukan rumahnya. “Bangunlah tamanmu,” lanjutnya pelan. ”Mereka akan datang dengan sendirinya.”
Kata-kata itu tinggal dalam hati Arga. Ia berhenti mengejar dan mulai mengolah tanah kecil miliknya. Ia menanam, menyiram, dan membersihkan dengan sabar. Tidak ada yang instan. Ia lelah, bahkan hampir menyerah, tetapi ia tetap bertahan. Perlahan kebunnya berubah. Bunga-bunga mulai bermekaran, menghadirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan.
Suatu pagi, tanpa disadari, seekor kupu-kupu kuning datang dan hinggap dengan lembut. Arga hanya tersenyum. Ia tidak lagi ingin menangkapnya. Saat itu ia mengerti—ia terlalu sibuk mengejar apa yang ia inginkan, hingga lupa membangun dirinya. Kini ia tahu, hidup bukan tentang berlari, tetapi bertumbuh.
Sejak itu Arga memilih merawat tamannya. Dan tanpa dikejar, hal-hal indah pun datang dengan sendirinya. Dan benar saja—tanpa dikejar, tanpa dipaksa, hal-hal indah mulai menemukan jalannya sendiri. Karena pada akhirnya, kupu-kupu tidak pernah datang kepada yang mengejar melainkan kepada mereka yang membangun taman dalam hidupnya.
Repelita Tambunan | Sobat Media
Foto: Unsplash

