Site icon Tangan Terbuka Media

Ketika Orang Asing Seketika Jadi Saudara

Barangkali kita pernah mendengar nasihat orang tua: ”Don’t talk to strangers” ’jangan berbicara dengan orang asing’. Nasihat itu lahir dari kasih dan keinginan melindungi. Dunia memang tidak selalu ramah, dan kewaspadaan adalah bagian dari kebijaksanaan.

Namun, di zaman informasi seperti sekarang batas antara ”asing” dan ”tidak asing” semakin tipis. Kita bisa bercakap-cakap lewat pesan singkat dengan seseorang yang baru saja kita simpan nomor kontaknya. Kita bisa berdiskusi di media sosial dengan orang yang belum pernah kita temui. Dalam konteks Indonesia, masyarakat yang terkenal ramah menyapa orang baru, bahkan menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

Lalu, benarkah orang asing itu benar-benar ada?

Bayangkan dua orang Batak bertemu—di kampung, di perantauan, di lapo, bahkan di luar negeri. Mereka belum pernah berjumpa. Secara teknis mereka adalah ”strangers”. Namun, hanya perlu satu pertanyaan untuk meruntuhkan jarak itu: ”Apa margamu?”

Pertanyaan itu bukan basa-basi. Itu adalah sandi untuk masuk ke sistem kekerabatan yang disebut partuturon. Dalam tradisi Batak Toba, partuturon mengatur sapaan berdasarkan silsilah. Begitu marga disebut, kedua orang itu segera ”menarik garis” hubungan dalam pohon keluarga besar. Dalam hitungan menit, yang tadinya terasa asing, bisa berubah menjadi Amangtua, Inangtua, Tulang, Namboru, Lae, atau Eda. Jarak sosial runtuh. Curiga mencair. Hubungan lahir. Kita sadar: kita terikat dalam satu pohon yang sama.

Di banyak budaya modern kita diajarkan untuk waspada terhadap orang asing—dan itu tidak salah. Namun, dalam kebudayaan Batak, ada pelajaran lain yang tak kalah penting: kemampuan menemukan pertalian di tengah perbedaan.

Karena itu, mungkin ungkapan yang lebih tepat bukan lagi ”Don’t talk to strangers, melainkan:
”Don’t be a stranger” ’Jangan jadi orang asing’.

Ini bukan larangan, melainkan ajakan: tetap berhubungan, saling menyapa, dan membuka ruang percakapan. Sebab, bisa jadi di balik wajah yang belum kita kenal, tersembunyi saudara yang belum kita sapa.

Repelita Tambunan | Sobat Media

Foto: pixabay.com/id/illustrations

Exit mobile version