Setiap pribadi memiliki ketertarikan tersendiri ketika scrolling media sosial. Mendapat ilmu pengetahuan dan pengalaman dari pengguna media sosial atau melihat karya-karya mereka adalah beberapa daya tariknya. Selain mendapatkan sesuatu, melalui media sosial kita pun dapat berbagi, sebab melaluinya informasi dapat tersebar luas, cepat, dan interaktif.
Tidak banyak pribadi yang menyisihkan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk berdedikasi dalam pelayanan media sosial, apalagi di tengah era validasi yang mementingkan ”like”, ”love”, ataupun pujian. Padahal melayani Tuhan bukan soal panggung, tetapi soal hati yang tetap taat saat tidak ada yang melihat.
Melayani di media sosial mengingatkan saya pada sebuah cerita tentang tradisi kuno di Itali yang disebut Suspended Coffee. Ketika seseorang membeli dua cangkir kopi di sebuah kafe, ia hanya menikmati satu cangkir. Bagaimana dengan satu cangkir lagi? Satu cangkir lagi disimpan oleh barista. Ketika ada orang miskin atau tuna wisma menanyakan: ”Adakah kopi yang ditunda hari ini?” maka barista akan memberikan kopi gratis itu kepada mereka. Tradisi ini mengajak banyak orang untuk berbagi dengan cara si pemberi tidak tahu orang yang meminumnya dan si penerima tidak tahu orang yang membayarnya. Yang pasti kopi itu berkualitas yang membuat penerima dan pemberinya berbahagia.
Dari Suspended Coffee kita belajar bahwa berbagi ilmu, karya, dan pengalaman di media sosial perlu terus dikembangkan oleh banyak orang. Berbagi tidak harus mengetahui penerimanya, pun tidak perlu bergantung pada respons mereka. Yang perlu dijaga adalah kualitas dan konsistensinya. Tuhan mengajak kita untuk berdampak dan Dia turut serta di dalamnya hingga ”Educating a person is the best charity” dapat terwujud nyata. Sudahkah kita berbagi ”kopi” untuk disimpan oleh barista?
Yudi Hendro Astuti | Sobat Media – Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
Foto: Unsplash/Di Bella Coffee

