Site icon Tangan Terbuka Media

Sawah

Hamparan sawah yang menguning dengan latar belakang perbukitan yang terlihat remang-remang adalah pemandangan di pedesaan yang memukau yang tak pernah saya lupakan. Bulan masih menunjukkan eksistensinya. Sementara matahari belum terbit, namun pantulan sinarnya menerangi semesta. Masihkah pemandangan yang penuh pesona itu dinikmati oleh generasi mendatang?

Beberapa dekade silam sawah membentang begitu luas dan hasil panen melimpah, petani pun bersemangat menggarap sawah. Namun, kini sawah sudah beralih fungsi menjadi tempat tinggal dan industri.  Petani pun menjadi susah karena harga sarana produksi dan upah tenaga kerja melejit yang tidak diikuti dengan kenaikan harga gabah. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan penurunan produksi hingga gagal panen. Minat generasi muda untuk menjadi petani sangat rendah dan seiring dengan berjalannya waktu para petani pun menua. Beberapa minggu terakhir ini beras sulit ditemukan di beberapa supermarket. Jangan-jangan beras mulai langka. Itulah salah satu kondisi tragis di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80.

Belajar dari petani, mereka menggarap sawahnya secara aktif, menanam, menyiram, memupuk, dan menyiangi. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh termasuk memperhatikan cuaca. Mereka mengerjakan bagiannya. Akan tetapi, pada saat yang sama mereka memberi kesempatan kepada Tuhan untuk bekerja. Tuhanlah yang menumbuhkan bibit yang mereka tanam. Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan. Petani itu menanti-nantikan Tuhan, bukan pasrah menyerah dan tidak berbuat apa-apa.

Seperti petani, mari mengerjakan bagian kita, melakukan sesuatu secara fokus, menanti dan berharap pada pertolongan Tuhan. Mari bergumul bersama dengan Tuhan untuk kehidupan kini dan mendatang sebab segala sesuatu adalah dari Tuhan dan untuk Tuhan karena Tuhanlah kehidupan kita. 

Yudi Hendro Astuti | Sobat Media

Foto: Yudi Hendro Astuti

Exit mobile version