”Tante, tolong dong kenalin saya dengan anak-anak orang kaya, supaya saya bisa mendapat pacar yang kaya!”
Saya tertawa mendengarnya. ”Kalau anak orang kaya, yang kaya ’kan orang tuanya,” sahut saya. ”Ya, tapi setidaknya sudah ada modal dulu, Tante,” jawabnya lagi.
Begitu mudahnya kalimat itu terucap dari seorang pemudi. Tidaklah heran jika seseorang dengan status ”orang kaya” sepertinya lebih mudah mendapatkan teman daripada seorang yang tidak kaya.
Namun, bagaimana jika teman-teman mendekati kita bukan karena ketulusan, namun karena ada harapan lain di baliknya? Bayangkan jika pasangan kita mengatakan, ”Sesungguhnya aku memilihmu karena banyaknya uang yang ada padamu, bukan karena mengasihimu.” Bagaimana perasaan kita?
Demikian juga halnya dalam beribadah. Sesungguhnya ibadah adalah jalinan komunikasi kita dengan Sang Maha Besar. Pelayanan adalah tanda kita mengasihi-Nya. Namun, tidak jarang hal itu menjadi sebuah media transaksional. Pelayanan dilakukan tidak bedanya dengan aksi untuk menyenangkan hati orang, bukan hati Tuhan.
”Saya ikut katekisasi supaya mudah mendapatkan pekerjaan.”
”Saya masuk dalam persekutuan pemuda agar mendapatkan relasi bisnis.”
”Saya ikut kelas PA, supaya dikenal orang sebagai orang baik-baik.”
Namun, kembali ke hati, jika kita tidak mau orang lain tidak tulus kepada kita, apalagi Sang Pencipta?
Dalam memasuki usia setengah abad, saya menyadari mentari sudah berada di ufuk senja kehidupan, entah ada berapa koma lagi yang menyambung kalimat dalam perjalanan hidup ini, kiranya hanya ketulusan saja yang menjadi titiknya.
Hati manusia sedalam samudra, tapi Dia mengetahui semuanya.
Tjhia Yen Nie | Sobat Media
Foto: cds

