Apa yang harus kami perbuat? Demikianlah tanya yang menuntut jawab. Lukas mencatat: ”Ketika mereka mendengar hal itu, hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, ’Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?’” (Kis. 2:37). Di mata mereka khotbah Petrus begitu runut, jelas, dan lugas, sehingga mereka bertanya dengan tulus kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, ”Kami harus berbuat apa?”
Boleh disimpulkan, khotbah Petrus adalah salah satu contoh khotbah yang baik. Khotbah yang baik itu tidak hanya memuaskan intelektual atau perasaan, melainkan menggerakkan para pendengarnya untuk berubah. Hati dan otak yang berkobar-kobar mendorong mulut untuk bertanya, ”Apa yang harus kami perbuat?
Petrus tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan tegas, dia menjawab, ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu, bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” (lih. Kis. 2:38-39).
Lukas mencatat: ”Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” (Kis. 2:41). Dan semuanya itu berawal dari penjelasan Petrus.
Mengapa? Karena Petrus sungguh mengalami kebangkitan Tuhan. Ia tidak hanya menyaksikan Yesus yang bangkit dengan mata kepala sendiri, tetapi juga merasakan bagaimana Yesus memulihkan dirinya. Namanya disebut oleh Kleopas dan kawannya yang telah melihat Yesus di Emaus. Kata mereka, ”Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon” (Luk. 24:34).
Ia yang awalnya mungkin tak lagi dianggap para murid lagi, karena peristiwa penyangkalan di halaman rumah Imam Besar, akhirnya dipulihkan Yesus di tepi danau Galilea. Petrus sungguh-sungguh mengalami kebangkitan Tuhan. Sekali lagi, tak sekadar kebangkitan, tetapi Petrus sungguh-sungguh mengalami kebangkitan Tuhan dalam hidupnya.
Itulah sebabnya, Petrus sungguh-sungguh mampu menjadi saksi yang efektif, khotbahnya begitu menggerakkan hati orang, karena dia memang telah mengalami kebangkitan Tuhan dalam hidupnya.
Hidup dalam Keagungan Tuhan
Dalam suratnya, Petrus menyatakan: ”Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” (1Ptr. 1:17). Yang dimaksud dengan ketakutan di sini ialah agar setiap orang percaya memuliakan Allah dalam hidupnya. Dalam BIMK tertera: ”Sebab itu selama kalian masih ada di dunia ini, hendaklah kalian mengagungkan Allah dalam hidupmu.”
Alasan Petrus satu saja: ”Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Ptr. 1:18-19).
Kristus mati agar kita Hidup. Sekali lagi, Petrus telah merasakan betapa mahalnya harga darah Kristus dalam hidupnya. Oleh karena itu, dia mendorong orang percaya bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hidup. (lih. 1Ptr. 1:22).
Perhatikan sekali lagi, perbuatan baik Allah seharusnya mendorong kita juga untuk melakukan hal yang baik. Perbuatan baik berbuah perbuatan baik pula. Karena itu, jangan berhenti untuk berbuat baik. Selama hidup kita, marilah kita mengagungkan Allah dalam hidup kita! Itu jugalah seruan pemazmur: ”Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan menyerukan nama TUHAN!” (Mzm. 116:13).
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa

