”Berapa lama lagi, ya TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar; aku berseru kepada-Mu, ’Kekerasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, dan memandangi saja kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian menjadi-jadi. Itulah sebabnya hukum tak lagi berdaya dan keadilan tidak pernah ditegakkan. Sungguh orang fasik mengepung orang benar, itulah sebabnya keadilan diputarbalikkan” (Hab. 1:2-4).
Demikianlah ratapan Nabi Habakuk. Ia saksi maraknya kejahatan. Di mana-mana ada kehancuran dan kekerasan, perkelahian dan perselisihan. Rakyat merasa lebih tinggi dari hukum. Bahkan, karena uang orang jahat menang di pengadilan.
Menarik disimak, setelah meratap, Habakuk berinisiatif: ”Aku akan berdiri di tempat penjagaanku dan bertahan di menara, aku akan meninjau untuk melihat apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya terhadap pengaduanku” (Hab. 2:1).
Habakuk sengaja naik ke tempat tinggi untuk menantikan firman Allah. Ia ingin mendengar suara Allah. Meski meratap kepada Allah, dan merasa Allah diam saja, ia tetap ingin mendengarkan Allah.
Jawaban Allah? ”Tuliskanlah penglihatan ini dan ukirkanlah itu pada loh-loh batu, supaya orang sambil lalu dapat membacanya” (Hab 2:2). Allah meminta Habakuk menulis. Menulis dengan jelas dan lugas agar orang dapat memahaminya meski membacanya sambil lalu.
Berkait situasi Yehuda yang amburadul, Allah menekankan pentingnya pembelajaran. Dan Habakuk diminta untuk membuat bahan ajar, dengan teknis yang menarik, agar orang yang enggak mau belajar bisa paham.
Ya, di tengah kehancuran bangsa, Habakuk melihat visi Allah. Visi Allah harus ditulis secara jelas agar orang dapat merasakannya. Jangan sampai ketidakjelasan membuat orang meragukannya.
Jelaslah, pembelajaran mutlak perlu. Hanya dengan cara itulah umat Allah diperlengkapi untuk mampu bersikap dan bertindak sebagai umat Allah.
Gereja yang belajar. Itulah yang harus terus dicanangkan di tengah situasi negeri sekarang ini. Jawaban dari proses reformasi 1998 yang belum selesai adalah perlunya menyiapkan generasi muda yang makin memahami panggilan menjadi kristen di Indonesia pada abad XXI.
Gereja perlu menyiapkan bahan ajar memadai, yang membuat naradidik menjadi haus ilmu. Pembelajaran iman Kristen seharusnya dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan. Sehingga makin banyak orang tertarik dan akhirnya memahami dan menghidupi imannya.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Kompasiana.com

