”Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!” (Mi. 6:3). Demikianlan gugatan Allah kepada umat Israel. Ya, dengan apakah engkau telah Kulelahkan?
Tampaknya, pada waktu itu Israel telah salah konsep berkait persembahan. Bisa jadi mereka merasa terbebani dengan semua aturan yang ada. Padahal aturan itu diadakan agar umat sungguh-sungguh diperkenan Allah. Sejatinya Allah tidak menuntut apa pun.
Tak hanya Israel, tak sedikit orang Kristen masa kini yang merasa bahwa Allah mengikat mereka dengan segala aturan. Padahal aturan itu dimaksudkan agar Israel, juga kita orang percaya abad ke-21, tetap layak di hadapan Allah.
Mereka bertanya-tanya: ”Dengan apakah seharusnya aku pergi menghadap TUHAN dan sujud kepada Allah yang di tempat tinggi? Haruskah aku pergi menghadap Dia dengan kurban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Haruskah kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan anak kandungku karena dosaku sendiri?” (Mi. 6:6-7).
Konsep mereka jelas: Mereka merasa perlu membayar keselamatan yang telah diterima dari Allah. Transaksional. Padahal, sekali lagi, Allah tidak menuntut bayaran apa pun. Semua aturan yang diberikan sesungguhnya agar umat tetap layak di hadapan Allah. Perhatikan pertanyaan Daud: ”TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh tinggal di gunung-Mu yang kudus?” (Mzm. 15:1). Daud bicara soal kelayakan.
Allah tidak menuntut persembahan. Ia hanya ingin umat-Nya melakukan apa yang baik. Kalaupun menuntut, Allah ingin umat-Nya berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya.
Berlaku adil mulai dari kepala. Keadilan berkait dengan paradigma (mindset). Itu berarti masalah keadilan tidak dimulai dari orang lain, tetapi mulai dari diri sendiri. Berlaku adil berarti tidak menunggu orang lain menuntut hak, namun memberikan hak. Ketika sudah waktunya bayar gaji, ya bayarlah gaji itu tanpa perlu menilai kerjanya.
Berlaku adil juga berarti tidak terpaku pada masa lampau. Kadang kita merasa orang enggak mungkin berubah. Saat seseorang berbuat salah kepada kita, di mata kita ia akan selalu salah. Apa yang diperbuat selalu salah. Itu berarti kita telah berlaku tidak adil terhadap orang tersebut.
Di tengah budaya digital, di mana orang terkungkung dalam temperung algoritma, apa yang dikatakan orang yang tidak kita sukai pasti selalu salah. Dan ini jelas tidak adil.
Mencintai kesetiaan sejatinya adalah belajar untuk hidup sesuai dengan apa yang dikatakan. Jika sudah berjanji, ya ditepati. Daud menyatakan, tetap berpegang dengan janji meskipun rugi. Orang melanggar janji karena tidak mau rugi lebih banyak.
Rendah hati di hadapan Allah sejatinya adalah bergantung penuh pada Allah. Inilah yang dimaksud Yesus Orang Nazaret dengan ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga” (Mat. 5:3).
Yang dimaksud orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang menggantungkan harapnya hanya kepada Tuhan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja; mereka adalah anggota umat Allah.”
Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana dinyatakan: ”Beruntunglah kalian kalau merasa sangat memerlukan Tuhan. Kalian adalah umat Tuhan.” Yang namanya umat Tuhan pastilah sangat memerlukan Tuhan.
Kerajaan Allah tentu hanya disediakan bagi setiap orang yang secara total menggantungkan dirinya kepada Allah saja. Dan memang hanya anggota umat Allahlah yang sangat memerlukan Tuhan. Tuhan menjadi hasrat utama. Dan merekalah yang boleh tinggal di rumah Allah.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa

