Sabda-Mu Abadi | 2 Januari 2026 | Mat. 25:1-13
”Pada waktu itu Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka” (Mat. 25:1-4).
Kisah sepuluh gadis memperlihatkan kepada kita pentingnya memahami dan merespons tanggung jawab. Mereka orang pilihan. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Dan mereka dianggap layak mengemban tanggung jawab itu.
Namun, tidak semua gadis itu menjalankan tugas mereka dengan serius. Ada yang tidak membawa minyak cadangan. Yesus menyebut mereka bodoh. Baik dicermati, mereka tidak jahat. Mereka adalah orang-orang tulus yang senang mendapatkan tugas sebagai penyambut mempelai.
Tetapi, yaitu tadi, di mata Yesus mereka bodoh karena tidak membawa minyak cadangan. Mereka disebut bodoh karena tidak siap merespons perubahan. Mempelai itu terlambat. Mereka tidak mampu merespons kemungkinan itu. Mereka pikir semua baik-baik saja. Ketika mempelai datang, habislah minyak dalam pelita mereka. Artinya, mereka tidak lagi mampu bertugas. Ya, apa artinya penyambut mempelai tanpa pelita yang menyala. Mereka tidak dapat lagi menjalankan tugas mereka dengan baik. Akibatnya, mereka ditolak oleh mempelai itu.
Kisah gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis bodoh ini memperlihatkan kepada kita pentingnya merespons perubahan. Pada kenyataannya, tidak ada yang pasti di dunia ini. Sehingga ada adagium: hanya satu yang tidak berubah, yakni perubahan itu sendiri. Kita harus siap merespons perubahan agar dapat menjalani tugas kita sebagai hamba Tuhan.
Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda
