Site icon Tangan Terbuka Media

Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Bagaimanakah seharusnya kita, orang percaya abad ke-21, mengartikan perkataan Tuhan kita, ”Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup?” (Yoh. 14:6). Sejatinya pernyataan ini bukan sekadar ungkapan iman, namun harus dilakoni! Kristen adalah pengikut Kristus. Artinya, kita mesti melakoni apa yang Yesus lakukan.

Itu berarti, kita dipanggil pula untuk berkata, tentu tidak dengan nada pongah, ”Aku jugalah jalan, kebenaran, dan hidup.” Sekali lagi, inilah panggilan kita sebagai Kristen.

Jalan

Apakah artinya menjadi jalan? Salah satu arti jalan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah yang dilalui atau dipakai untuk keluar masuk. Sebagai pengikut Kristus, kita jugalah jalan bagi orang di sekitar kita untuk sampai kepada Bapa. Orang tua manusiawi juga adalah jalan bagi anak-anak untuk mengenal orang tua ilahi.

Itu jugalah kisah Bapa Gereja Augustinus. Dalam keluarganya, hanya ibunyalah yang telah menjadi Kristen. Tentang ibunya, Monika, Augustinus menyatakan bahwa sang ibu tak pernah berhenti mendoakannya agar dia menjadi Kristen. Dan itu baru terealisasi berpuluh tahun kemudian. Kisah Augustinus terlihat dalam lagu Namaku disebut.

Arti lain dari jalan adalah lantaran. Istilah ini merupakan istilah Jawa, yang berarti yang menjadi alat atau jalan penghubung. Apa pun profesi kita, kita seharusnya menjadi jalan yang dapat dilalui orang untuk sampai kepada Allah. Kita dapat menjadi jalan yang menghubungkan orang kepada Allah.

Bagaimana agar bisa menjadi jalan seperti itu? Tentunya kita harus memiliki akses kepada Allah dan pintu masuk kepada manusia. Jika kita tidak mempunyai jalan masuk kepada Allah, kita hanya akan membuat orang tersesat. Atau, jalan kita itu tak ubahnya jalan buntu.

Contoh dalam sejarah gereja adalah bagaimana Stefanus menjadi jalan bagi Paulus—yang masih bernama Saulus—untuk berjumpa Yesus. Lukas mencatat, para saksi, yang menyeret dan melempari Stefanus dengan batu, meletakkan jubah mereka di depan seorang muda yang bernama Saulus (lih. Kis. 7:58).

Kebenaran

Bagaimana dengan kebenaran? Dalam KBBI kebenaran dapat berarti: (1) keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya, (2) sesuatu yang sungguh-sungguh ada, (3) kelurusan hati dan kejujuran. Jelas di sini bahwa kebenaran bicara soal hati, pikiran, ucapan, dan tindakan.

Tidak hanya perlu berpikir benar, bersikap benar, tetapi ucapan dan tindakan pun harus benar! Kebenaran dimulai dari pikiran dan perasaan; nalar dan hati. Karena orang tidak dapat menilai hati orang—berkait orang lain, kita perlu berujar dan bertindak benar.

Jangan bohong! Sebab, sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya. Lagi pula, kebohongan pertama biasanya akan memaksa kita mengucapkan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan pertama ini. Begitu seterusnya. Dan tentu saja enggak ada habisnya!

Sekali lagi, seorang Kristen juga dipanggil untuk menjadi kebenaran. Artinya, berpikir, berperasaan, berujar, dan bertindak benar. Apa yang menjadi tolok ukurnya? Ya, kebenaran Allah. Agar tetap benar, kita harus terus terkait dengan-Nya. Dan jangan menunggu orang lain untuk bertindak benar. Mulailah dari diri kita sendiri.

Dan Stefanus, semasa hidup, telah menyatakan kebenaran. Ia tidak menutupi kebenaran. Ia tetap berkhotbah tentang kebenaran meski harus mati!

Hidup

Sebagai Kristen, pengikut Kristus kita juga dipanggil untuk menjadi hidup. Kita tidak dipanggil untuk menjadi mayat. Kita dipanggil untuk tetap hidup dan menghidupi orang lain. Menghidupi orang lain berarti pula membuat orang lain hidup, dan bukan membuat orang lain sekarat. Artinya, menghidupkan dan bukan mematikan orang lain.

Salah satu cara menghidupkan orang lain ialah dengan memberikan pengampunan. Pada akhir hidupnya Stefanus meniru Yesus, Sang Guru, ketika berseru dengan suara nyaring: ”Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis. 7:60). Kita bisa memastikan Paulus mendengarkan seruan itu.

Pengampunan akan membuat orang hidup. Mereka merasa diterima. Perasaan diterima itulah yang akan membuat mereka juga mampu mengampuni orang lain. Akhirnya, terjadilah saling menghidupkan di antara manusia!

Menjadi Seperti Bayi

Menjadi jalan dan kebenaran dan hidup tentu bukan panggilan yang mudah. Hanya satu syaratnya: menempel pada Sang Pokok Anggur. Atau, kalau mau menggunakan terminologi bayi dalam surat Petrus, kita dipanggil untuk selalu menginginkan air susu yang murni dan Rohani, supaya kita dapat bertumbuh dan beroleh keselamatan (lih. 1Ptr. 2:2).

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Hendaklah kalian menjadi seperti bayi yang baru lahir, selalu haus akan susu rohani yang murni. Dengan demikian kalian akan tumbuh dan diselamatkan.”

Ya, seorang bayi normal selalu haus akan air susu ibunya. Bahkan naluri seorang bayi yang baru lahir adalah mencari air susu ibunya. Itulah yang akan membuatnya bertumbuh dengan baik. Menjadi seperti bayi itulah juga panggilan kita jika hendak menjalani hidup seperti Kristus menjadi jalan, kebenaran, dan hidup!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

Exit mobile version