Paskah adalah kisah persekutuan. Demikian yang dicatat dalam Injil Markus. ”Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.” (Mrk. 16:1). Permulaan hari dimulai pada sore hari. Jadi, pada hari Sabtu Sore, ketiga perempuan itu sepakat membeli rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus.
Ketiganya boleh dibilang kompak. Pada Jumat sore mereka kelihatannya enggak sempat membeli rempah-rempah. Bisa dimaklumi karena peristiwa penangkapan Yesus pada Kamis malam sungguh mendadak. Lagipula, biasanya, penjahat yang disalib biasanya baru mati setelah beberapa hari. Yesus berbeda. Setelah tiga jam disalib, Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa.
Lalu, kapan koordinasi di antara ketiga perempuan itu? Mungkin, baru pada Sabtu Sore itu. Kok bisa? Karena mereka memiliki kerinduan yang sama: meminyaki tubuh Yesus. Persekutuan akan buyar tanpa visi bersama. Ya, itulah modal mereka: visi bersama. Mengapa? Karena cinta.
Jangan main-main dengan cinta! Cinta bisa membuat orang melakukan yang tak terbayangkan. Pastilah ketiga perempuan itu mafhum, Guru mereka telah menjadi musuh bersama—kolaborasi antara pemerintah Romawi dan pemimpin agama Yahudi, bahkan segenap rakyat telah dihasut. Namun, mereka sepertinya tak terlalu ambil pusing. Yang penting mereka dapat meminyaki tubuh Yesus.
Penulis Injil Markus mencatat: ”Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur” (Mrk. 16:2). Pagi-pagi benar. Keterangan waktu memperlihatkan bahwa tindakan mereka pergi ke kubur merupakan prioritas. Bisa jadi sejak semalam mereka juga tidak terlalu nyenyak tidur agar bisa pagi-pagi pergi ke kubur.
Dalam perjalanan barulah mereka sadar, siapa yang akan menolong menggulingkan batu penutup kubur. Tampaknya mereka juga tidak tahu bahwa Gubernur Pilatus telah menyegel kubur itu. Meski tidak tahu bagaimana cara membuka kubur, mereka terus berjalan. Mereka tidak mengurungkan niat. Sekali lagi, mereka ingin memuliakan tubuh Yesus.
Senyatanya mereka pun tak perlu menggulingkan batu itu, juga tak perlu meminyaki tubuh Yesus. Batu itu sudah terguling. Kisah tergulingnya batu memberi kita, orang percaya abad ke-21, pelajaran: Kalau punya niat baik, jalan saja. Jika sesuai kehendak Allah, Ia pasti mendukung.
Dan itulah yang terjadi. Mereka tak perlu menggeser batu itu. Padahal kalau dipikir-pikir mengapa Allah harus membuat batu itu bergeser? Bukankah Yesus yang bangkit bisa masuk dan keluar ruangan-ruangan yang pintunya tertutup? Kelihatannya Allah ingin para perempuan itu menjadi saksi kebangkitan-Nya. Seandainya para perempuan itu tidak jadi pergi ke kubur karena tahu tak ada yang akan menolong, pastilah mereka kehilangan kesempatan menyaksikan kubur yang kosong.
Mereka memang tidak jadi memuliakan tubuh Yesus. Itu tidak penting lagi. Tubuh rohani Yesus tidak perlu diminyaki. Sia-siakah usaha mereka? Pasti tidak. Kebangkitan Sang Guru jelas lebih penting daripada apa pun.
Dan mereka mendapat tugas baru: Menjadi saksi kebangkitan. Itu juga cara lain dalam memuliakan Yesus.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450 -Tangan Terbuka Media!

