Site icon Tangan Terbuka Media

Kisah Israel, Yesus, dan Perempuan Samaria

Kisah di Masa dan Meriba mungkin membingungkan kita. Mulanya, penulis mencatat: ”Mereka berjalan dari persinggahan ke persinggahan sesuai dengan titah Tuhan” (Kel. 17:1). Artinya, taat. Jika Tiang Awan atau Tiang Api itu bergerak, Israel pun bergerak. Jika Tiang Api atau Tiang Awan itu berhenti, mereka berkemah. Tiada protes. Semua menaati Allah tanpa syarat.

Mengapa? Salah satu alasan yang bisa dikemukakan adalah mereka telah merasakan pertolongan Allah. Umat sungguh-sungguh merasakan bahwa Allah bersama mereka dan selalu siap menolong mereka.

Fanny Crosby mencoba menggambarkan keadaan ini dengan syair: ”Di jalan ’ku diiringi oleh Yesus Tuhanku. Apakah yang kurang lagi, jika Dia panduku?” (Kidung Keesaan 510:1)Kalau Allah—pribadi yang mau dan mampu menolong—bersama kita, apa lagi yang kurang? Itulah yang dirasakan umat Israel.

Banyak bukti bisa disebutkan di sini: Mulai dari sepuluh tulah di Mesir, penyeberangan Laut Teberau, pengubahan air pahit menjadi manis di Mara, hingga pemberian manna dan burung puyuh. Dari semua kenyataan tadi, pastilah umat Israel mengamini: Jika Tuhan yang menjadi pandu, kata ”kurang” tidak relevan lagi.

Namun, kisah itu berlanjut dengan pertengkaran antara orang Israel dan Musa. Di Masa dan Meriba mereka protes keras kepada Musa karena tidak menemukan air untuk diminum. Lalu, apa gunanya manna dan burung puyuh tanpa air sedikit? Orang bisa tahan lapar barang beberapa hari, tetapi soal haus, siapa yang bisa menahannya?

Dan ngerinya, ketiadaan air itulah yang menyebabkan umat Israel seolah lupa segala keajaiban yang mereka telah terima. Mereka tampak alpa dengan kenyataan hidup bahwa selama ini mereka telah dicukupi Allah. Bahkan, ketiadaan air membuat mereka mempertanyakan keberadaan Tuhan. Mereka bertanya, ”Adakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?”

Mungkin kita heran, begitu mudahnya keyakinan berubah. Dari menaati Allah tanpa syarat menjadi mempertanyakan keberadaan-Nya.

Dan anehnya, mereka tidak meminta air kepada Allah. Mereka seolah melupakan sejarah hidup mereka sendiri. Bahwa Allah pernah berkarya dalam hidup mereka. Yang ada hanyalah gerutuan!

Sekali lagi, mungkin kita heran dengan sikap Israel. Namun, kisah ini bukan barang baru. Ini kisah umum. Kita mungkin juga termasuk di dalamnya.

Saat duka menerpa bagaimanakah sikap kita? Ketika sakit tiada kunjung sembuh, ketika kesulitan hidup makin menekan, ketika masalah seakan tak ada habisnya, ketika harapan jauh panggang dari api, mungkin kita masih percaya bahwa Allah ada, tetapi mungkin kita juga tergoda berpikir bahwa Allah tak lagi peduli.

Yesus

Sekali lagi haus itu adalah bagian dari kehidupan manusia. Itu jugalah yang dialami Yesus Orang Nazaret. Ia dalam keadaan haus. Tengah hari. Sendirian, Di dekat sumur. Air ada, namun terasa jauh karena tak ada timba.

Selanjutnya? Minta! Dengan marah? Pasti tidak. Israel marah kepada Musa. Yesus—yang juga orang Israel—tidak. Ia menyapa perempuan itu, ”Berilah aku minum!” Yesus tidak terbelenggu dengan gengsi. Ia tahu siapa perempuan itu. 

Perempuan itu terkejut bukan kepalang. Heran mendengar seorang Yahudi meminta sesuatu kepadanya. Ini bukan peristiwa biasa. Biasanya, orang Yahudi terlalu tinggi gengsinya untuk memohon sesuatu kepada orang Samaria. Orang Yahudi, yang merasa diri sebagai bangsa terpilih dan murni, menganggap orang Samaria sebagai bangsa campuran yang tidak mengindahkan hukum Allah.

Tak hanya itu, orang Yahudi itu juga tidak mau memakai cangkir dan mangkuk yang dipakai oleh orang Samaria. Mereka takut tercemar. Di mata orang Yahudi, orang Samaria tak ubahnya dengan penderita kusta yang harus dijauhi. Bersentuhan dengan orang Samaria hanya akan membuat najis diri mereka. Oleh karena itu, permintaan Yesus membuat perempuan itu terperanjat. Dengan permintaan itu, jelaslah bahwa Yesus bersedia menggunakan alat timba dari perempuan Samaria itu.

Permintaan itu membuat perempuan cantik itu merasa dihargai. Ini memang jarang terjadi. Biasanya, orang-orang, khususnya laki-laki dewasa, hanya meminta kecantikannya. Mereka ingin berhubungan seksual dengannya. Tak lebih dari itu. Namun, laki-laki muda Yahudi itu tidak meminta kecantikannya. Ia hanya minta minum.

Perempuan Samaria itu merasa tersanjung. Ia merasa dianggap. Dianggap memiliki sesuatu, yang darinya orang dapat menerima sesuatu yang baik. Dan sekali lagi, itu bukanlah kecantikannya.

Selanjutnya, percakapan di antara mereka berdua mengalir dengan cepat dan lancar. Percakapan yang akhirnya melebur batas bangsa, kasta, dan moral. Percakapan itu bermuara kepada satu persoalan besar manusia: air.

Perempuan Samaria

Yesus—Allah yang menjadi manusia itu—mengerti sungguh akan keberadaan manusia tanpa air. Namun, Yesus melangkah lebih jauh. Guru dari Nazaret itu menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria itu. Dia menegaskan bahwa air hidup yang ditawarkan-Nya tidak akan membuat manusia haus lagi. Dan akhirnya, giliran perempuan cantik itu yang meminta sesuatu kepada Yesus, ”Tuan, berikanlah aku air itu!” (Yoh. 4:15).

Permohonan perempuan Samaria itu sendiri bisa dilihat baik secara tersurat maupun tersirat. Tersurat: Perempuan Samaria itu tidak ingin datang lagi ke sumur itu. Sejatinya dia merasa malu jika harus bertemu dengan para perempuan lainnya. Itulah sebabnya, dia mengambil air pukul dua belas siang, saat para perempuan Samaria telah selesai mengambil air. Perempuan Samaria itu merasa tak merasa nyaman hatinya menyaksikan para perempuan yang kerap bergosip mengenai dirinya.

Tersirat: Perempuan Samaria itu memang haus secara rohani. Ia tidak pernah merasa cukup secara rohani. Sudah lima kali perkawinannya kandas. Dan sekarang dia sendiri tak berani untuk mengikat diri dengan laki-laki yang tinggal serumah dengannya. Ia takut kalau-kalau perkawinan itu pun gagal seperti yang lalu-lalu. Secara rohani perempuan itu haus.

Dengan kata lain, perempuan itu haus baik secara jasmani maupun secara rohani. Dan Yesus tahu itu. Karena itulah, bisa dimengerti mengapa Guru dari Nazaret itu menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria itu.

Air hidup itu ialah Kristus sendiri. Inilah yang penting dalam hidup manusia. Sebab oleh Dia kita telah diperdamaikan dengan Allah (Rm. 5:10). Inilah yang memulihkan hidup manusia! Ketika ini terjadi, mereka bisa bernyanyi, ”Apakah yang kurang lagi, jika Dia panduku!”  

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

Exit mobile version