Site icon Tangan Terbuka Media

Lahir, Mati, Zina

Sabda-Mu Abadi | 14 Mei 2024

Dalam perjalanan dari Betel ke Efrata Rahel bersalin (lih. Kej. 35:16-20). Persalinan itu begitu sukar, sehingga merenggut nyawanya sendiri. Rahel sendiri menamai anaknya itu Ben-oni, yang berarti ”putra deritaku”, sedangkan Yakub mengubah nama itu menjadi Benyamin, yang berarti ”putra yang akan beruntung”.

Mengapa? Pertama, kelihatannya Yakub—berdasarkan pengalaman hidup—percaya bahwa Allah bisa mengubah semua hal buruk menjadi sesuatu yang baik. Kedua, mungkin Yakub tak mau memberi beban kepada anak bungsunya. Dia agaknya tak mau anak bungsunya itu merasa bersalah karena menjadi sebab kematian ibunya. Ketiga, tampaknya Yakub tak ingin terbelenggu oleh kesedihannya akibat kehilangan Rahel.

Kisah kematian Rahel dan kelahiran Benyamin bisa diceritakan orang tua abad XXI kepada anak-anak mereka. Bahwa dalam setiap kelahiran selalu ada risiko bagi sang ibu. Dengan kata lain, kelahiran mereka didahului oleh perjuangan, hidup atau mati, ibu mereka.

Oleh karena itu, mengasihi orang tua, khususnya ibu, menjadi sebuah keniscayaan. Aneh rasanya jika anak tidak mengasihi orang tua mereka. Sikap menghormati orang tua merupakan bukti konkret dari mengasihi orang tua. Dan itulah yang tidak diperlihatkan Ruben.

Penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Sesudah itu, berangkatlah Israel, lalu ia memasang kemahnya di seberang Migdal-Eder. Ketika Israel tinggal di negeri ini, Ruben pergi tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan Israel mendengar hal itu” (Kej. 35:21-22a).

Kita tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Yang pasti perzinaan Ruben dan Bilha tidak bisa dibenarkan menurut hukum, budaya atau agama mana pun. Pada titik ini Ruben telah menyakiti hati Yakub dan Lea, ibunya. Dia juga telah gagal menjadi teladan selaku anak tertua. Yakub pun agaknya tidak melakukan tindakan apa pun. Tidak diceritakan oleh penulis apakah Yakub menghukum Bilha dan Ruben.

Kisah ini memperlihatkan kepada kita, para orang tua abad XXI, untuk sungguh-sungguh menolong anak-anak kita belajar hidup kudus di hadapan Allah. Itulah yang akan membuat mereka terhindar dari kesalahan yang tidak perlu.

Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media

Klik tautan berikut ini untuk mendengarkan versi audio:

Foto: Unsplash/Marek P.

Exit mobile version