”Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, dan Lot pun ikut bersama dia. Abram berumur tujuh puluh lima tahun ketika ia berangkat dari Haran” (Kej. 12:4). Kepergian Abram merupakan tanggapan positif atas firman Allah.
Jika diperhatikan, ini menariknya, Abram tak lagi muda saat Allah memintanya pergi dari Haran dan dari sanak keluarganya. Bayangkan: 75 tahun! Ketika orang sedang menikmati masa tua—setidaknya sudah mampu berdamai dengan kegagalan masa muda—Abram diminta untuk meninggalkan semua kemapanan yang dimilikinya.
Abram memang tidak mempunyai anak, namun ia adalah pemimpin sukunya. Jika Terah meninggal, bisa dipastikan Abramlah yang akan menggantikannya. Ketika semuanya tampak baik-baik saja, kecuali ketiadaan anak tentunya, panggilan dari Allah itu datang.
Berkait kisah Abram, dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan: ”Lalu percayalah Abraham kepada Allah, dan Allah memperhitungkan hal itu [kepercayaan Abraham] kepadanya sebagai kebenaran” (Rm. 4:3). Dalam pandangan Paulus percaya itu merupakan kebenaran.
Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Abraham percaya kepada Allah, dan karena kepercayaannya ini ia diterima oleh Allah sebagai orang yang menyenangkan hati Allah.” Paulus berkesimpulan bahwa Allah menerima Abraham sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya. Mengapa? Karena ia memahami posisinya sebagai hamba. Dan hamba selalu berusaha menyenangkan hati tuannya! Dan satu-satunya yang menyenangkan hati Sang Tuan adalah ketika hamba percaya kepadanya.
Bukankan itu juga yang terjadi dalam dunia manusia. Apa yang diharapkan seorang tuan? Kepercayaan hambanya! Apa yang diharapkan seorang atasan? Kepercayaan bawahannya! Cuma itu. Dan memang beda perbuatan yang berdasarkan kepercayaan dibandingkan dengan perbuatan yang tidak berdasarkan kepercayaan.
Misalnya, ketika atasan kita menyuruh kita melakukan sesuatu, dan kita percaya bahwa apa yang dimintanya pasti untuk kebaikan perusahaan, dan berarti untuk kebaikan kita juga, maka kita akan melakukan itu dengan penuh semangat.
Akan tetapi, kalau dalam hati kita ada syak wasangka, bahwa itu hanya untuk kepentingan atasan kita saja, maka kita pasti tidak akan menjalankan pekerjaan itu dengan segenap hati, ogah-ogahan. Mengapa? Karena kita nggak percaya.
Dan dalam kasus Abram, ia pergi karena percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik kepadanya, ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan Abram—menjadi bangsa yang besar dan menjadi berkat.
Dan sejatinya, kepercayaan macam begini pun adalah anugerah. Itulah yang diingatkan Tuhan Yesus kepada Nikodemus: Roh Allah bekerja laksana angin, Roh Allah berdaulat penuh, nggak bisa didikte! Dan ketika Roh itu bekerja dalam diri kita, maukah kita dipimpin oleh-Nya? Percaya pun adalah anugerah Allah! Dan inilah yang akan menyempurnakan semua perbuatan kita!
Bagaimana dengan kita? Maukah kita memberikan diri kita untuk dikuasai-Nya? Percaya sejatinya adalah memercayakan diri. Sewaktu kita memercayakan diri kita, Allah sendiri yang akan menjadi penjaga kita (Mzm. 121:5). Sebab ia berkepentingan atas diri kita.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa
n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450 -Tangan Terbuka Media!

