Site icon Tangan Terbuka Media

Langit Baru dan Bumi Baru

Sabda-Mu Abadi | 18 April 2024 | 2Ptr. 3:13

”Namun, sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.”

Berkait frasa ”langit yang baru dan bumi yang baru”, bisa jadi Petrus mengutip nubuat Nabi Yesaya. Bagaimanapun, cuma dia yang bernubuat soal itu. Yesaya bernubuat: ”Sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati” (Yes, 65:17).

Allah adalah Pribadi yang bertindak. Perhatikan tidak digunakan bentuk lampau, tetapi sekarang. Tidak juga dinyatakan: ”Aku akan menciptakan….”; tetapi ”Aku menciptakan….” Ketiadaan kata ”akan” menjelaskan bahwa Allah bertindak. Dan tindakan-Nya adalah menciptakan langit baru dan bumi baru.

Langit baru dan bumi baru berarti pula pembaruan manusia. Dengan kata lain, Allah menciptakan manusia baru. Oleh karena itu, bicara soal pembaruan, kita bisa menyatakan bahwa yang dibarui adalah akal budinya. Berkaitan dengan akal budi baiklah kita tetap ingat bahwa akal budi terdiri atas dua kata: akal dan budi. Berbicara soal akal budi tidak melulu berkaitan dengan kognisi, pikiran, tetapi juga menyentuh afeksi, hati. Yang semuanya itu terwujud dalam tingkah laku sehari-hari. Jadi yang berubah ialah seluruh kemanusiaan.

Persoalannya, maukah manusia diubah oleh Allah sendiri. Pada titik ini, Allah mencipta, manusia turut serta. Di sinilah kelemahan utama manusia. Banyak orang senang dengan hal baru, tetapi sedikit orang yang mau melakukan perubahan. Pada kenyataannya perubahan itu memang menyakitkan. Berkait perubahan, tak sedikit orang berhenti pada kata ”akan”. Ujung-ujungnya status quo.

Itu jugalah yang ditekankan Petrus—kebenaran. Langit yang baru dan bumi yang baru hanya berisikan kebenaran. Itu berarti hanya orang-orang yang hidup dalam kebenaranlah—dalam anugerah Allah—yang bisa menjadi penghuni semesta yang baru.

Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media

Klik tautan di bawah ini untuk mendengarkan versi audio:

Foto: Unsplash/M. Richard

Exit mobile version