Kisah penyembuhan seorang ibu dalam rumah ibadah (Luk. 13:10-17)— yang hanya dicatat Lukas ini—menarik disimak. Entah apa penyakitnya. Yang jelas, penyakit itu menyebabkannya bungkuk selama 18 tahun. Delapan belas tahun bukan waktu sebentar. Itu berarti waktu rata-rata dibutuhkan seseorang dari lahir hingga lulus SMA. Dan Yesus menyembuhkannya.
Yesus menyembuhkan bukan karena ia berkuasa menyembuhkan, bukan pula karena hendak pamer, tetapi lebih dari itu karena Yesus merasa iba hatinya. Bayangkan, 18 tahun dia bungkuk! Mungkin saja, penyakitnya itu telah membuatnya minder. Mungkin itu juga yang menyebabkannya ia tidak merasa perlu meminta pertolongan Yesus.
Akan tetapi, Yesus peka. Guru dari Nazaret tidak menunggu ibu itu ngomong. Ia juga menyembuhkan tanpa memperhatikan aturan picik yang berlaku. Kebaikan hati tidak pernah terhalang, juga oleh aturan. Agaknya, bagi Yesus tak perlu nunggu besok untuk berbuat baik.
Itulah yang tak dipahami kepala rumah ibadah. Dengan gusar dia protes: ”Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada hari-hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat” (Luk. 13:14). Ia mungkin merasa terganggu ibadahnya dengan peristiwa penyembuhan itu. Oleh karena itu, dia menghardik perempuan itu agar hadir di hari lain.
Namun, pemahaman Yesus berbeda. Bagi Yesus, belas kasihan lebih penting dari aturan mana pun. Bahkan dengan lugas, Yesus menyebut munafik setiap orang yang keberatan dengan tindakan-Nya. Mengapa? Karena mereka melepaskan lembu atau keledai pada hari Sabat dari kandang dan membawanya ke tempat minuman, namun membiarkan perempuan itu tetap terikat.
Di mata Yesus, orang-orang itu lebih punya perikehewanan ketimbang perikemanusiaan. Mereka lebih sayang hewan ketimbang manusia. Semua itu dilakukan karena hewan itu milik mereka sendiri. Ujung-ujungnya, untuk kepentingan mereka sendiri.
Sejatinya, yang diperkenan Allah—dalam seruan Yesaya—bukan semata-mata ritual ibadah, tetapi tindakan yang membebaskan orang-orang dari penindasan dan keterbatasan (Yes. 58:6-7). Hanya dengan tindakan semacam itulah kita bisa menghadap Tuhan dengan percaya diri (Yes. 58:9-10).
Dan sebagaimana Yesus, semua tindakan itu dimulai dengan melihat (Luk. 13:12). Ya, lihatlah sekeliling kita! Itulah panggilan kita sesehari.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa