Site icon Tangan Terbuka Media

Memelihara Visi

Kisah pembagian tanah Kanaan (Yos. 13–15) menampilkan sosok Kaleb bin Yefune, seorang veteran bangsa Israel. Bersama Yosua bin Nun, Kaleb gigih memperjuangkan visi yang telah Allah tanamkan dalam diri bangsa Israel—memasuki Tanah Perjanjian.

Ketika semua  pengintai—yang diutus Musa memata-matai bangsa Kanaan—bersepakat tidak mau merebut Kanaan karena takut, Kaleb dan Yosua menegaskan bahwa Allahlah yang akan berjuang bagi mereka.

Bahkan, ketika semua bangsa itu menjadi khawatir dan enggan meneruskan perjuangan untuk merebut Kanaan, mereka berdua—dengan dukungan Musa—tetap bertahan. Kegigihan Yosua dan Kaleb untuk beriman di tengah ketidakpercayaan bangsa Israel membuat Allah berikhtiar menghapuskan seluruh bangsa Israel di padang gurun, kecuali diri mereka berdua.

Janji Allah tergenapi. Hanya Yosua dan Kaleb yang masih hidup dan siap merebut Tanah Perjanjian. Dan Kaleb ternyata tetap memegang visinya. Kepada Yosua, dia berkata, ”Sekarang, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu. Engkau sendiri mendengar pada waktu itu bahwa di sana ada orang Enaq dengan kota-kota besar yang berbenteng. Mungkin saja TUHAN menyertai aku untuk menghalau mereka, seperti difirmankan TUHAN” (Yos. 14:12). Meski telah berusia 85 tahun, Kaleb mengaku bahwa kekuatan fisiknya sama seperti pada waktu dia mengintai Kanaan dan siap merebut Hebron.

Kisah Kaleb bin Yefune adalah kisah seorang yang berupaya terus memelihara visinya. Bisa dikatakan, selama 45 tahun ia juga telah menyiapkan dan melatih tentara-tentara muda yang merupakan generasi kedua, bahkan ketiga, sejak keluar dari Mesir. Kaleb pun sepertinya terus melatih raganya agar tetap prima. Sehingga ketika tiba berperang, fisiknya tetap mendukung.

Empat puluh lima tahun bukan waktu yang pendek. Namun demikian, Kaleb mampu menghidupi visi Allah dalam dirinya. Penulis Kitab Yosua pun mencatat: ”Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai hari ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati” (Yos. 14:14).

Kisah Kaleb bin Yefune mengingatkan kita, orang percaya abad ke-21, akan pentingnya memelihara visi. Jika tidak, di tengah kesibukan diri dalam menghadapi tantangan hidup visi itu pun lenyap.  

Di bilangan Rawamangun, Jakarta, ada sebidang jalan yang bernama Balai Pustaka Barat. Namun, Yohana, anak kami, lebih suka menyebutnya Jalan CBCT. Singkatan dari Cepat Buka Cepat Tutup. Ya, di jalan sepanjang sekitar 500 meter itu tumbuh begitu banyak usaha kuliner. Sayangnya kebanyakan hanya seumur jagung. Tidak bertahan lama. Mengapa? Kelihatannya sang pemilik tak mampu memelihara visinya.

Karena itu, pentinglah bagi setiap orang percaya untuk terus memelihara visi yang ditanamkan Allah bagi dirinya dalam dunia kerja. Baik karyawan maupun pengusaha, juga aparatur sipil negara perlu terus memelihara visi itu.

Tentu saja kita bisa melakukan revisi, tetapi semestinya dilakukan agar kita bisa menjadi lebih relevan. Gonta-ganti visi—gonta-ganti pekerjaan atau usaha sewaktu kendala menghadang—tidak akan pernah membuat kita maju.

Jangan pula kita lupa memohon pertolongan Allah untuk memelihara visi yang ditanamkan-Nya dalam diri kita. Jika itu visi dari Allah, Dia takkan pernah lepas tangan untuk mewujudkannya. Percayalah!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media

Exit mobile version