Site icon Tangan Terbuka Media

Memuliakan Allah

”Tuhan, sungguh baik kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia” (Mat. 17:4).

Kita tidak tahu seberapa besar kebahagiaannya. Namun, jika Simon adalah orang yang suka mempelajari sejarah bangsanya, tentulah peristiwa di gunung itu sungguh istimewa. Dia melihat, dengan mata kepala sendiri, gurunya sedang bercengkerama dengan Musa dan Elia.

Bersama dengan Pribadi-pribadi Mulia

Kisah transfigurasi Yesus di atas gunung bersama dengan Musa dan Elia memang bukan peristiwa biasa. Petrus, Yohanes, dan Yakobus pastilah merasakan kemuliaan itu karena mereka bersama dengan orang-orang yang mulia. Secara psikologis, ini hal yang wajar, bersama dengan orang-orang hebat, kita pun sering merasa hebat atau tersanjung.  

Musa memang bukan tokoh biasa. Dari sisi manusia, dia paling ganteng seangkatannya karena yang lainnya telah mati dibuang ke Sungai Nil begitu ketahuan bahwa mereka laki-laki. Dan Musa selamat. Tak hanya selamat, ia diangkat menjadi anak dari Puteri Firaun. Itu berarti ia menjadi pangeran Mesir, tentulah dengan kualitas pendidikan tinggi, sehingga boleh dibilang Musalah yang paling berpengetahuan di antara orang sebangsanya. Belum lagi pengalaman 40 tahun menjadi pangeran, 40 tahun menjadi gembala domba, dan 40 tahun menjadi pemimpin bangsa yang baru merdeka. Siapakah manusia yang bisa menandingi naik turunnya kehidupan Musa.

Musa pun pribadi setia. Meski tahu tak boleh memasuki tanah Kanaan, ia tidak mutung. Ia setia menjalankan tugas memimpin umat Israel hingga selesai; dan itu berarti dia juga setia menyiapkan kader. Pada titik ini kepemimpinan Musa layak diapresiasi. Ia pemimpin bervisi. Bagi dia yang penting Israel punya tanah air sendiri. Dan karena tahu tidak boleh masuk Kanaan, dia menyiapkan Yosua. Dan siapa sangka bahwa sejarah penyelamatan Allah akan berpuncak pada diri Yesus orang Nazaret. Yosua dan Yesus maknanya sama ”Yahwe menyelamatkan—Allah menyelamatkan”. Yesus adalah nama Yunani dan Yosua atau Yesaya adalah nama Ibraninya. Kepemimpinan Yosua bisa dimaknai secara simbolik. Itu terjadi ketika Musa mau mendidiknya.

Pribadi kedua adalah Elia. Jika Musa dipandang sebagai peletak Taurat, Elia bisa dipandang sebagai pemurni Taurat. Pada masa Elia hubungan Israel dan Allah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Ahab Sang Raja merasa berhak mengambil tanah orang Israel. Tak hanya merampas, dia juga membunuh Nabot dengan intrik. Dan Elia tidak tinggal diam. Elia menyatakan hukum. Elia pribadi tegas, lugas, tanpa tedeng aling-aling. Dia pula yang memimpin pembunuhan 950 orang nabi Baal dan Asyera.

Kedua orang itu, baik Musa dan Elia, memang bukan pribadi sempurna. Akan tetapi, mereka setia dalam pelayanan hingga akhir. Sejarah mencatat, keduanya memang tak memiliki nisan. Allah memuliakan mereka dengan mengangkat ke surga.

Bisa jadi kisah-kisah kedua orang besar—juga tentunya Yesus Orang Nazaret—memenuhi benak Petrus. Dia merasa mendapatkan kemuliaan bersama dengan orang-orang yang mulia itu. Dan Petrus ingin tetap bersama mereka bertiga terus merasakan kemuliaan itu.

Dan itu bukan perkara mustahil. Itu bisa saja terjadi. Caranya? ”Dengarkanlah Dia!” (Mat. 17:5). Demikianlah perintah pada kisah transfigurasi hingga hari ini.

Mendengarkan Allah

Dengarkanlah Dia! Dengarkanlah Tuhan! Itulah perintah pada Minggu Transfigurasi ini. Apa artinya mendengarkan?

Dalam aksara Mandarin, mendengarkan (ting) sedikitnya terdiri atas empat karakter. Pertama adalah telinga. Mendengarkan pastilah dengan telinga. Ada ungkapan mengapa Tuhan memberikan kita dua telinga dan satu mulut agar kita dua kali lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara.

Kedua, mendengarkan berarti seolah-olah kita sedang mendengarkan Sang Raja. Kawan bicara kita adalah orang yang sangat penting dan karena itu kita mendengarkannya.

Ketiga, mendengarkan dengan sepuluh mata berarti perhatian maksimal, istilah biologisnya akomadasi maksimum.  Kalau orang ketika mendengarkan berulang kali lihat jam tangannya, tentu dia tidak sedang dalam perhatian maksimal.

Keempat, mendengarkan berarti juga mendengarkan dengan hati! Bukan hati yang terpecah-belah, tetapi mendengarkan dengan satu hati. Mendengarkan berarti juga memakai hati.

Dengan keempat hal ini, mendengarkan memang bukan perkara sederhana. Ketika kita melakukannya, secara tidak langsung kita tengah memuliakan orang itu. Dan kita perlu mengajarkan anak-anak kita mendengarkan. Caranya? Baiklah mereka tahu dahulu betapa mereka juga didengarkan oleh orang tua mereka. Bukan persoalan sederhana, khususnya saya, karena sering kali di dalam otak ada begitu banyak kata yang harus dikeluarkan, dan kalau dikeluarkan ternyata belepotan semua.  

Dan ketika kita melakukannya untuk Tuhan berarti pula kita sedang memuliakan-Nya. Hidup yang memuliakan Tuhan dimulai dari keinginan untuk mendengarkan-Nya!

Menarik pula disimak, Pak Ayub Poli, dalam Kidung Jemaat 14, sengaja mengaitkan antara memuliakan Allah dan mendengarkan Allah. Lagu itu dimulai dengan kemeriahan ”Muliakan Tuhan Allah, dan diakhiri dengan kesyahduan ”Kami siap mendengar.”

Dan kalau kita kembali kepada peristiwa transfigurasi ini, baik Musa, Elia, dan Yesus orang Nazaret adalah pribadi-pribadi yang mendengarkan Bapa! Musa meski tak boleh masuk tanah Kanaan, toh dia tetap setia dan taat akan perintah Allah dengan menyiapkan Yosua. Elia meskipun pernah dengan frustasi berkata, ”Sekarang ya Tuhan, ambil nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyang!”, toh ketika Tuhan menyuruh dia kembali ke Israel dia pulang dan akhirnya menyiapkan Elisa. Dan Tuhan Yesus Kristus, di puncak pergumulannya di Taman Getsemani pun berkata, ”Jadilah kehendak-Mu!

Mereka bertiga taat. Dan ketaatan dimulai dari telinga.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

Exit mobile version