”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Tentu kita tidak keberatan dengan ungkapan ini. Apalagi yang sedang jatuh cinta. Orang yang lagi jatuh cinta akan melakukan apa saja demi kekasihnya. Dasarnya: Kasih!
Kasih jugalah yang seharusnya menjadi modal setiap Kristen, pengikut Kristus. Atas nama kasih, hal tersulit pun biasanya dijalani dengan setia.
Menaati kehendak Allah memang harus berdasarkan kasih. Jika tidak, kita tak ubahnya budak! Jika tidak, kita hanya merasakan sebagai setumpukan beban kerja yang harus dijalani tanpa protes, yang berbuah pada serangkaian keluhan, atau malah gerutuan.
Kasih kepada Allah membawa kita pada kepatuhan. Kasih membawa kita untuk menjalani semua tugas dengan setia. Sebagaimana Yesus, karena kasih-Nya mematuhi Sang Bapa. Kasih berbuah kepatuhan.
Namun begitu, pengalaman menyatakan dengan jelas, meski sungguh mengasihi Allah, manusia sering jatuh juga. Dengan akal budi kita menegaskan bahwa kita mengasihi Allah. Namun, ketika duka menerpa, persoalan menyelimuti, perasaan kita kadang ikut terombang-ambing, yang berujung pada tindakan menjauhi Allah. Yang membuat kita enggan menuruti segala perintah-Nya.
Penolong yang Lain
Karena itulah, Yesus menjanjikan Penolong yang lain kepada para murid-Nya. Menarik disimak, sebutan untuk Roh Kebenaran atau Roh Kudus itu bukanlah Diktator, tetapi Penolong yang lain. Mengapa yang lain? Karena Penolong yang selama ini ada adalah Yesus Orang Nazaret.
Ia bukanlah Diktator yang sewenang-wenang, namun Penolong yang setia. Dialah yang akan menolong kita untuk mengasihi Allah, sehingga kita dapat menuruti kehendak-Nya.
Dunia memang tidak dapat menerima Dia. Dunia yang dimaksud di sini bukanlah bumi dan segala isinya, tetapi segala unsur kejahatan. Dan segala yang jahat pastilah menolak Roh Kebenaran. Sebab, Roh Kebenaran itu senantiasa mengoreksi apa yang tidak benar. Dan kepada para murid-Nya, Yesus menjanjikan Penolong agar mereka sungguh-sungguh dapat berpikir, bersikap, dan bertindak benar!
Pekabaran Injil
Lalu, apakah yang dimaksud dengan segala perintah Kristus? Tentunya, banyak ragamnya. Salah satunya: Pekabaran Injil! Itulah yang dilakukan Paulus. Ia memang diutus untuk memberitakan Kabar Baik di kalangan orang bukan Yahudi.
Di Atena Paulus tidak bertopang dagu. Ia berusaha membagikan pemahaman imannya kepada orang-orang Atena. Karena orang Atena gemar pengetahuan baru, Paulus pun diundang ke sidang Areopagus untuk membagikan pengetahuan yang dimilikinya. Dan itulah yang dicatat Lukas dalam Kisah Para Rasul 17:22-31.
Tak banyak yang tertarik dan akhirnya percaya. Namun, ada pula yang tertarik, di antaranya: Dionisius dan Damaris. Mengapa?
Pertama, Paulus dalam pemberitaannya tidak menyerang orang Atena. Sebaliknya, ia memuji karena ketaatan ibadah mereka kepada para dewa. Di sini Paulus mengakui bahwa orang Atena serius dengan apa yang mereka percayai. Paulus tidak menafikan itu. Paulus tidak menganggap remeh hal ini, namun menerimanya sebagai suatu kenyataan baik.
Kita perlu belajar banyak dari Paulus. Dalam mengabarkan Injil, atau membagikan pemahaman iman, janganlah kita menganggap remeh orang yang berbeda kepercayaan dengan kita. Kita harus menghargai mereka. Walau kadang mereka tidak sejahtera dengan kepercayaan mereka, kita tak boleh mengegonginya!
Namun begitu, tidak berarti kita menganggap bahwa iman mereka sama dengan kita. Tidak sama sekali. Kita harus berani menyatakan iman kita. Kita tidak perlu menyembunyikannya.
Ini juga yang ditekankan Petrus dalam suratnya: ”Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena perilakumu yang baik dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1Ptr. 3:15-16).
Sekali lagi, kita patut menghargai orang-orang yang berbeda paham dengan kita. Berbeda keyakinan bukan tabu. Namun, perbedaan keyakinan tak boleh membuat kita membenci orang yang berbeda keyakinan itu.
Kedua, Paulus membagikan pemahaman imannya dalam konteks orang Atena. Di Atena Paulus menyaksikan sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Agaknya, Paulus mengenal sejarah mezbah tersebut.
Dalam bukunya Duta Bagi Kristus, William Barclay menyatakan, sekitar 600 tahun sebelum kedatangan Paulus, penduduk Atena dilanda wabah dahsyat. Lalu dipersembahkanlah kurban bagi setiap dewa yang dikenal. Namun wabah tetap berkecamuk. Kemudian seorang pujangga Kreta, Epimenides, tampil dengan sebuah nasihat untuk melepaskan sekawanan domba berwarna putih dan hitam dari bukit Areopagus ke seluruh kota. Di mana pun seekor domba terbaring, di situ pulalah hewan tersebut dikurbankan kepada patung berhala terdekat. Jika domba berbaring di dekat kuil dewa yang belum dikenal, hewan itu dikurbankan kepada “Allah-allah yang tidak dikenal”. Kabarnya, sejak itu Atena bebas dari wabah.
Paulus menjadikan mezbah Allah yang tidak dikenal itu sebagai jalan masuk ke dalam pikiran para pendengarnya. Bahkan Paulus memperkenalkan Allahnya sembari mengutip syair para pujangga Atena. Paulus sangat mengerti konteks, sejarah, dan budaya orang Atena. Kita bisa belajar dari Paulus di sini.
Ketiga, Allah adalah Pribadi yang memberi kebebasan setiap orang untuk percaya atau tidak. Allah tidak pernah memaksa orang untuk percaya kepada-Nya. Bagian kita hanyalah membagikan pemahaman iman kita. Mengenai jumlah orang yang mau percaya atau tidak, itu dalam wewenang Allah saja!
Bagian kita adalah membagikan pemahaman iman. Jangan bicara jumlah. Itu urusan belakangan. Yang sungguh-sungguh penting Adalah apakah kita telah membagikan pemahaman iman kita?
Artinya, sebagai pengikut Kristus bersaksi kepada dunia tentang iman kita. Kita dipanggil untuk membagikan pemahaman iman kita. Dan itu hanya dapat terjadi jika kita sungguh-sungguh memahami apa yang kita imani. Jika tidak paham, bagaimana mungkin kita mau membagikannya. Apa yang akan kita bagikan? Caranya adalah peliharalah keselamatan kita! Artinya, kita perlu sungguh-sungguh membina diri, agar kita semakin paham iman kita dan semakin mengasihi Allah.
Sekali lagi ini bukan pekerjaan gampang. Tapi jangan lupa, kita punya Penolong sejati! Yaitu: Roh Kebenaran.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa

