Site icon Tangan Terbuka Media

Pertobatan Ekologis

”Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu!” (Yl. 2:13). Demikianlah seruan Nabi Yoel kepada umat Israel yang selalu menyapa kita pada ibadah Rabu Abu.

Nabi Yoel mengingatkan kita agar tidak hanya bertumpu pada yang tampak. Yang terlihat. Namun, yang penting adalah, apakah yang tampak itu memang merupakan cerminan dari apa yang tidak terlihat. Jika tidak, Tindakan sesaleh apa pun hanya akan turun derajat menjadi ajang pamer. Dan karena itu, sang nabi menasihatkan umat Israel, juga kita orang percaya abad ke-21, untuk mengoyakkan hati.

Pengoyakan hati tentu lebih sulit. Pakaian lebih gampang dikoyakkan karena berada di luar tubuh. Bagaimana dengan hati yang bersifat abstrak dan berada di dalam tubuh? Lalu, apa bukti bahwa seseorang telah mengoyak hatinya? Siapa pula yang menjamin bahwa hati itu telah terkoyak?

Terkait dengan hati yang terkoyak, hanya dua pribadi yang sungguh tahu: diri sendiri dan Allah. Manusia tidak mungkin membohongi diri sendiri. Dan Allah, menurut Daud, ”berkenan akan ketulusan hati” (Mzm. 51:8). Allah menghargai ketulusan.

Senada dengan Nabi Yoel, kepada para murid-Nya, Yesus pun berujar: ”Ingatlah, jangan kamu mengamalkan kesalehanmu di depan umum supaya dilihat orang…” (Mat. 6:1). Motivasi menjadi krusial di sini. Mereka tidak dilarang mengamalkan kesalehan, tetapi motif di balik kesalehan itu menjadi sangat penting dan bermakna.

Dalam Ibadah Rabu Abu, kita mendapatkan olesan abu di dahi. Pengolesan abu itu pun sepatutnya tidak menjadi ajang pamer kesalehan. Setiap orang yang menerima olesan abu seyogianya telah mengoyakkan hatinya.

Jadi, dengan menggunakan terminologi Nabi Yoel, bukan mengoyakkan pakaian dahulu baru mengoyakkan hati. Namun, pengoyakkan hati itulah yang memampukan kita mengoyakkan pakaian. Pengoyakan pakaian hanyalah lambang. Dengan kata lain, pengoyakkan hati itulah yang mendorong kita menerima olesan abu sebagai lambang pengoyakkan hati!

Yang juga perlu diingat, meski berada di dalam tubuh—tidak terlihat oleh manusia lain—pengakuan dosa merupakan tindakan aktif. Kata kerja yang dipakai bukanlah kata kerja pasif, tetapi melainkan kata kerja aktif; ”koyakkan” dan bukan ”dikoyakkan”. Pengakuan dosa merupakan niat diri, bukan karena terpaksa.

Bukan Tanpa Dasar

Pengoyakan hati bukanlah tanpa dasar! Pengakuan dosa bukanlah tanpa alasan. Pertama, manusia memang debu dan abu. Manusia adalah makhluk lemah, ringkih, dan rentan.

Kisah Adam dan Hawa merupakan kisah kita juga. Kadang, sebagaimana Adam dan Hawa kita terpikat untuk melakukan apa yang kita pikir dan kita rasa benar.

Apa salahnya tahu yang baik dan jahat! Bukankah itu akan membuat kita menjadi lebih bijak? Apa salahnya menjadi bijak? Apa salahnya berpengetahuan? Ya, memang tidak ada salahnya! Akan tetapi, masalah manusia pertama ialah mereka melanggar kesepakatan bersama.

Inilah salah satu bukti keabuan manusia. Kita sering bertindak menurut apa yang kita rasa dan pikir benar, yang bisa membawa pada pelanggaran. Pengandalan akal dan rasa kadang membuat kita lupa bahwa akal budi adalah karunia Tuhan. Lebih gawat lagi, jika manusia akhirnya merasa lebih pandai dan lebih peka ketimbang Tuhan.

Atau, ada yang beranggapan bahwa Tuhan pastilah memaklumi kesalahan manusia. Pemahaman macam begini kadang menjadi dasar untuk berbuat sesuka hati. Ini juga merupakan sesat pikir dan sesat rasa! Pandangan itu berujung pada meremehkan Tuhan. Aneh rasanya, kita sengaja berbuat salah karena tahu Tuhan itu pengasih. Bukankah ini pula bukti keringkihan kita selaku manusia?

Kedua, Allah ingin berdamai dengan manusia. Allah ingin bersekutu kembali dengan manusia. Tak heran jika Paulus berkata: ”Terimalah uluran tangan Allah yang memungkinkan kalian berbaik dengan Dia.” (II Kor. 5:20b, BIMK)

Inilah kebenaran yang seharusnya memampukan kita mengoyakkan hati! Pengakuan dosa hanya akan terjadi kala orang sadar bahwa Allah bersedia menerima dirinya tanpa syarat. Banyak orang tak yakin adanya pengampunan sehingga mereka enggan mengakui dosanya. Jika tak ada kepastian pengampunan dosa, buat apa pula kita mengaku dosa?

Allah telah terlebih dahulu mengulurkan tangan-Nya. Persoalannya: apakah manusia mau pula mengulurkan tangannya? Jika manusia mau mengulurkan tangannya, maka manusia dan Allah bergandengan tangan. Itulah persekutuan sejati!

Dan itu dimulai kala kita mengoyakkan hati—dan bukan pakaian kita—secara tulus, sepi ing pamrih. Ya, tulus, tanpa basa-basi!

Ketiga, pengolesan abu mengingatkan bahwa kita memang berasal dari tanah. Kita berasal dari alam. Kita bukan di luar alam. Sehingga logis rasanya jika Tema Masa Raya Paskah tahun ini adalah ”Kebangkitan Kristus Memperbarui Ciptaan”. Kebangkitan Kristus tidak hanya untuk manusia, tetapi juga segala makhluk. Segala ciptaan. Pada titik ini kita dipanggil untuk mengasihi bumi.

Bumi Sedang Menderita

Itu jugalah pidato yang disampaikan Kepala Suku Seattle pada 1854. Demikian penggalan pidatonya yang diterjemahkan Pdt. Stephen Suleeman:

Setiap bagian bumi ini suci bagi rakyatku. Setiap jarum pinus yang berkilauan, pantai yang berpasir, kabut dalam hutan yang gelap, lapangan yang terbuka, dan serangga yang bersenandung adalah suci dalam kenangan dan pengalaman bangsaku.

Kami adalah bagian dari bumi dan bumi adalah bagian dari kami. Bunga-bunga yang harum adalah saudara-saudara kami; kijang, kuda, elang besar, semua ini adalah saudara-saudara kami. Puncak-puncak berbatu, air yang mengairi lembah, kehangatan tubuh anak kuda, dan manusia berasal dari keluarga yang sama.

Karena itu bila kami menjual tanah kami, kasihilah mereka sebagaimana kami mengasihinya. Peliharalah sebagaimana kami telah memeliharanya. Peliharalah tanah ini untuk anak Anda, dan kasihilah… sebagaimana Allah mengasihi kami.

Kita dipanggil untuk mengasihi bumi. Mengasihi bumi merupakan keniscayaan karena kehancurannya akan menyebabkan manusia menjadi tunawisma.

Dan berkait bumi, pada 1985 M. Karatem dan H.A. Pandopo membuat syair yang menarik diperhatikan: ”Sekarang menderita seisi dunia dan dosa manusia mengakibatkannya. Tapi Yesus pun sengsara bagi kita yang bersalah, terhapus dosa kita di salib Golgota” (Pelengkap Kidung Jemaat 58:3).

Bumi sedang menderita. Dan ketika bumi menderita, manusia pun turut menderita. Itulah yang kita rasakan sejak akhir tahun 2025 hingga hari ini. Dan karena itu, pertobatan ekologis menjadi harga mati.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

Exit mobile version