Belajar Taat

Published by Yoel M. Indrasmoro on

perilaku taat hukum

Ketaatan adalah keniscayaan, khususnya dalam hubungan antarmanusia. Tanpa ketaatan yang ada hanyalah kekacauan semata.

Salah satu contohnya adalah jam ibadah. Jelas: ibadah pukul 17.00, ya harus dimulai pukul 17.00. Tak boleh terlambat, tetapi jangan juga terlalu cepat. Ibadah pukul 17.00, ya mulai pukul 17.00.

Jika lonceng ibadah ini terlambat dibunyikan, pasti warga jemaat resah. Dan kata tanya ”mengapa” melintas dalam benak! Namun, kalau lonceng ibadah dibunyikan pada pukul 16.50, pasti akan banyak protes karena membuat sebagian warga jemaat jadi terlambat. So, untuk ibadah pukul 17.00, lonceng ibadah semestinya berbunyi pada 17.00.

Demikian pula dalam proses ibadah ini. Pemusik haruslah menaati partitur, demikian pula pemandu pujian, juga warga jemaatnya. Dan memang harus ada satu lagu yang sama baik untuk pemusik, pemandu pujian, dan juga warga jemaat. Kalau versinya beda, ya amburadul.

Inilah yang dinamakan komitmen. KBBI mengartikan komitmen sebagai ”perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu”. Nah, berkait dengan hidup bersama orang lain, komitmen, ini ada dalam film ”The Amazing Spiderman” bukanlah pilihan, tetapi tanggung jawab. Dan memang KBBI menerjemahkan komitmen sebagai ”tanggung jawab”.

Saya selalu suka mengenang ketika masih menjadi editor kontrak, biasanya ada perjanjian antara editor dan penerbit. David L. Baker, dosen Perjanjian Lama saya, kalau membuat kontrak biasanya demikian: ”Pihak pertama mengikatkan diri untuk melakukan….” Pada titik ini ketaatan merupakan tindakan manusia merdeka. Hanya manusia merdekalah yang bisa taat. Jika dipaksa taat, ketika nggak ada yang melihat, ya tidak melakukannya.

Yesus Kristus

Berkait ketaatan, Penulis Surat Ibrani menulis tentang Yesus Kristus:  ”Yesus adalah Anak Allah, tetapi meskipun begitu, Ia belajar menjadi taat melalui penderitaan-Nya”(Ibr. 5:8). Yesus adalah Anak Allah, namun serentak dengan itu Dia memanggil diri-Nya sebagai hamba. Persoalannya sering memang di sini, status anak biasanya membuat seseorang menjadi manja.

Itu memang bukan kesalahan Si Anak semata, orang tua sering kali menjadikan anak itu menjadi manja dan tidak mau diatur. Kita tentu masih ingat perumpamaan Anak Yang Hilang: Anak Bungsu tidak mau diatur dan mengambil jalannya sendiri; Anak Sulung meski tetap berada dalam rumah, hanya raganya yang taat, tetapi hatinya tidak!

Yesus Orang Nazaret tidak demikian. Meski Anak Allah, Dia tetap taat. Karena dia juga merasa diri sebagai Hamba. Dan sebagai hamba, Dia berkata dengan tegas: ”Kehendak-Mu jadilah.”

Kasih

Mengapa Yesus taat? Karena Yesus mengasihi Bapa. Buah kasih adalah ketaatan. Saya menduga kita sepakat dalam hal ini. Apa lagi bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Biasanya orang mau melakukan apa saja yang diinginkan pasangannya. Yang penting hati pasangannya senang. Dan semuanya berdasarkan cinta.

Kasih jugalah yang seharusnya menjadi modal setiap Kristen, pengikut Kristus. Berdasarkan kasih, maka hal yang tersulit pun biasanya dijalani dengan setia. Hal menuruti kehendak Tuhan sejatinya memang harus berdasarkan kasih. Sebab, jika tidak maka kita tak ubahnya budak! Jika tidak didasari kasih, maka yang terjadi hanyalah setumpukan beban kerja yang harus dijalani tanpa protes. Dan yang akan keluar dari mulut hanyalah serangkaian keluhan, bisa jadi malah gerutuan.

Kasih kepada Allah akan membawa kita kepada kepatuhan. Kasih akan membawa kita untuk menjalani semua tugas yang dibebankan kepada kita dengan setia. Sebagaimana Yesus, karena kasih-Nya menjadi taat kepada Sang Bapa. Dalam diri Yesus, buah kasih adalah kepatuhan. Tanpa kasih, kepatuhan hanyalah semu!

Akan tetapi, pengalaman hidup manusia menegaskan bahwa manusia, meski sungguh-sungguh mengasihi Allah, sering kali toh jatuh juga. Terkadang tak gampang bagi kita untuk mengasihi Allah. Akal budi kita bisa saja menyatakan dengan tegas bahwa kita mengasihi Allah. Namun, ketika duka menerpa kita, persoalan menyelimuti kita, sering perasaan kita ikut-ikutan terombang-ambing; dan ujung-ujungnya kita malah menjauhi Allah. Kita tidak lagi mengasihi Dia. Kalau sudah begini, maka kita pun menjadi enggan menuruti segala perintah-Nya.

Percaya

Kepercayaan merupakan modal untuk taat. Ketaatan merupakan buah percaya. Ketika Saudara percaya kepada atasan Saudara, saudara pasti menaatinya. Banyak orang tidak taat karena dia tidak lagi memercayai atasannya.

Mengapa mesti percaya kepada atasan? Sebab dialah orang yang paling bertanggung jawab atas maju atau mundurnya sebuah perusahaan. Jika Saudara tidak lagi memercayai atasan Saudara, maka mundur merupakan sebuah keniscayaan. Karena jika kita masih di situ, maka hati kita pasti akan terus merasa bersalah. Sebab ketataan kita semu belaka. Percaya bahwa apa yang diperintahkannya untuk kebaikan bersama.

Dan itulah yang diamini Yesus orang Nazaret sejak awal: ”Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini” (Yoh 12:27). Itulah kepercayaan Yesus kepada Bapa-Nya. Salib merupakan satu-satunya alasan Dia datang ke dalam dunia. Dia datang untuk mati.

Bagaimana Caranya?

Lalu, bagaimana caranya menaati kehendak Bapa ? Jawabannya: pahamilah kehendak-Nya! Sebelumnya: Dengarkanlah suara-Nya! Bagaimana mungkin menaati kehendak Bapa tanpa mendengarkan suara-Nya?

Renungkanlah kisah-kisah-Nya dalam Alkitab. Renungkanlah kisah-kisah Saudara bersama Allah selama ini ! Allah sendiri, dalam nubuat Yeremia, menyatakan: ”Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer. 31:33). Allah berbicara dalam hati kita, bersediakah kita mendengarkannya?

Mudahkah? Tentu tidak! Tetapi, kita punya teladan. Oleh karena itu, saya rasa kita perlu mengarahkan pandangan kita kepada Kristus. Sebagaimana Kristus, Saudara dan saya adalah anak Allah. Dan sebagaimana Kristus, pula Saudara dan saya adalah hamba Allah. Kita semua adalah Abdullah, abdi Allah. Dan ketaatan adalah tanda pengabdian itu.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

Categories: Untaian Nada Ilahi