Yesus di Hadapan Pilatus
Orang banyak itu memilih Yesus Barabas untuk dibebaskan! Pada titik ini Pilatus berhasil menjadikan suara kebencian itu menjadi legal.
Read moreOrang banyak itu memilih Yesus Barabas untuk dibebaskan! Pada titik ini Pilatus berhasil menjadikan suara kebencian itu menjadi legal.
Read moreYudas merasa tak ada lagi jalan keluar. Ia tak punya lagi harapan. Ia sungguh tidak mengenal gurunya dan karena itu, bunuh diri menjadi keniscayaan.
Read moreVonis sudah dijatuhkan. Kesepakatan telah bulat. Yesus Orang Nazaret harus mati. Sang Guru tak pantas hidup.
Read morePetrus tidak membela diri. Ia hanya menangis dengan sedih. Menangis karena berharap masih ada pengampunan baginya.
Dari hal-hal kecil yang sering terlewatkan ini, saya menyadari bahwa hidup memang selalu memiliki dua sisi yang seimbang. Namun pada akhirnya, hidup bukan tentang apa yang datang kepada kita, melainkan tentang pilihan apa yang kita ambil.
Yesus Orang Nazaret memang pribadi yang berintegritas. Ia hanya melakukan apa yang dikatakan-Nya dan mengatakan apa yang dilakukan-Nya.
Petrus memang tak tega melihat Yesus digelandang sendirian ke mahkamah agama, dengan alasan keamanan, ia tetap menjaga jarak.
Aneh rasanya jika seorang masih merasa diri murid tega mengkhianati gurunya.
Dalam Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Duduklah di sini. Aku mau ke sana untuk berdoa.”
Sang Guru hendak menyatakan bahwa peristiwa penyangkalan itu terjadi masih di malam yang sama. Ya, tinggal sesaat lagi.