Yang Kaya Makin Kaya

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Tahun Yobel

Berkenaan Tahun Yobel, ada perintah Allah, melalui Musa, yang menarik disimak, yaitu: ”Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli darinya, janganlah kamu merugikan satu sama lain” (Im. 25:14). Ini jelas beda dengan sistem ekonomi duniawi yang berupaya meraih untung sebanyak-banyaknya.

Ekonomi Allah—ekonomi berkait erat dengan oikumene (rumah bersama)—semestinya mensyaratkan adanya ketidakinginan saling merugikan satu sama lain. Aneh rasanya jika orang serumah gembira di atas penderitaan orang lain.

Dengan kata lain, pentingnya disepakati harga yang wajar. Inilah fungsi utama dari tawar-menawar. Harga yang wajar berarti, sang penjual bisa hidup layak dari keuntungan yang didapat dan sang  pembeli tidak membeli lebih mahal dari yang seharusnya. Sekali lagi, penjual harus mendapatkan keuntungan, tetapi jangan sampai merugikan pembeli.

Yang sering terjadi, ketika sang pembeli tahu bahwa sang penjual enggak ada yang beli, dia menawar hingga harga terendah. Atau, karena sang penjual tahu banyak yang membeli, dia sengaja mematok harga tinggi. Sebab, tahu orang akan berebutan membeli. Sesungguhnya inilah yang merusak tatanan. Yang akhirnya membuat dunia tidak lagi menjadi rumah bersama.

Bisnis properti bisa menjadi contoh nyata. Harga properti sering dipatok tinggi dengan alasan: lokasi, lokasi, dan lokasi. Tentu saja, yang mampu beli adalah orang berduit. Namun, mereka pun tidak menempatinya. Alasannya buat investasi dengan harap harganya makin tinggi. Ujung-ujungnya, yang miskin tetap tak punya rumah. Gaya ekonomi hanya akan membuat, mengutip syair lagu Rhoma Irama, ”yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”.

Panggilan untuk tidak merugikan satu sama lain berdasarkan pemahaman bahwa ”Akulah TUHAN, Allahmu” (Im. 25:17). Inilah alasannya: semuanya ciptaan Allah. Dan Allah mengasihi semua.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media