👁️

”Yesus berkata kepada mereka, ’Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan’” (Mat. 14:16). Demikianlah Sang Guru menanggapi usulan para murid.

Usul itu bukan sembarang usul. Bisa jadi mereka hendak meneladan Yesus. Mereka saksi bahwa Sang Guru semula hendak menata hati, tetirah sejenak, setelah mendengar kabar kematian Yohanes Pembaptis. Namun, apa mau dikata, Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan. Dia lebih peduli kepada orang banyak ketimbang retret sendirian. Dan belas kasihan itu yang ditunjukkan para murid saat berkata, ”Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi ke dessa-desa supaya dapat membeli makanan bagi mereka sendiri” (Mat. 14:15).

Jelas, para murid tidak memikirkan diri sendiri. Mereka ingin berbuat sesuatu. Tak heran dengan cepat mereka mengatakan bahwa yang mereka miliki hanya lima roti dan dua ikan. Mereka tahu kondisi. Dan usulan mereka logis. Sebelum malam tiba, dan warung-warung mulai tutup, massa itu sebaiknya dibubarkan saja agar mereka bisa membeli makanan.

Namun, belas kasihan Yesus mengajak para murid bertindak magis. Magis (dibaca mahgis) adalah istilah Latin yang berarti lebih dan dikembangkan oleh Serikat Yesus. Para murid ingin orang banyak itu pulang agar bisa cari makan sendiri-sendiri, namun Sang Guru berkata, ”Kamu Harus memberi mereka makan.”

Mungkin di sinilah letak persoalan para murid: ”Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan” (Mat. 14:17). Nah, dalam Kerajaan Allah, lima roti dan dua ikan itu pun sesungguhnya milik Allah. Mereka hanyalah orang-orang yang dititipi lima roti dan dua ikan itu. Dan benar, ketika mereka rela mempersembahkan apa yang sejatinya merupakan milik Allah itu, mukjizat pun terjadi.

Kita, orang percaya abad ke-21, perlu belajar bahwa semua pemberian kita adalah milik Allah semata. Dan ketika kita memberi dalam sikap sembah kepada Allah, mukjizat pun terjadi. Saat memahami bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah, aneh rasanya jika kita segan memberi!

Karena semua yang ada pada kita adalah milik Allah, menjadi penting bagi kita untuk tidak main-main dengan apa yang ada pada kita. Tampaknya, kita perlu sungguh-sungguh bertanya sekarang ini: ”Apa yang ada pada kita?” Lalu, ”Bagaimana sikap dan tindakan kita terhadapnya?” Seterusnya, ”Apakah kita telah sungguh-sungguh mengelolanya?” Selanjutnya, ”Apakah kita telah mempersembahkannya kepada Allah?”

Demikianlah serangkaian tanya seorang Kristen sejati.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa