👁️

Dalam keadaan nadir Ayub beriman: “Tetapi, aku tahu Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit membelaku di atas bumi” (Ayb. 19:25). Ya, pengakuan iman Ayub tidak dikatakan saat semua dalam keadaan baik. Tidak. Semuanya terasa serbaburuk dan serbakelam.

Kitab Ayub dimulai dengan kalimat: “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub. Orang itu saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan sangat banyak budak. Dialah orang yang terkaya di antara semua orang di sebelah timur” (Ayb. 1:1-3). Dan semua itu musnah dalam satu hari.

Dalam keadaan semacam itu, Ayub berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke sana. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayb. 1:21). Bahkan penulis Kitab Ayub menulis: “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah melakukan yang kurang patut” (Ayb. 1:22)

Pada masa itu, juga masa kini, ada pendapat: Hidup baik, diberkati; hidup jahat dikutuki. Istri Ayub yang sungguh mengenal Ayub meyakini bahwa Ayub tak punya kesalahan. Jika demikian, yang salah adalah Tuhan. Ia berkata kepada Ayub, “Masihkah engkau bertekun dalam kesalehanmu? Kutukilah Allah dan matilah!” (Ayb. 2:9).

Namun demikian, Ayub berkata kepada istrinya, “Engkau berbicara seperti perempuan bebal! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb. 2:10). Lagi-lagi penulis Kitab Ayub menulis: “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” (Ayb. 2:10).

Teman-teman Ayub—berbeda dengan istri Ayub—percaya bahwa Allah tak pernah berbuah salah. Karena itu, mereka menyalahkan Ayub dan meminta dia mengakui kesalahannya. Ayub bersikukuh menyatakan bahwa dirinya tak bersalah.

Tak hanya itu, Ayub percaya bahwa Allah tidak akan diam saja dan akan membela dirinya. Dan kita tahu akhir ceritanya: Ayub tidak bunuh diri dan tetap hidup sebagai milik Allah.

Yoel M. Indrasmoro | Tangan Terbuka Media: Bangun Jiwa via Media Anda

n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450 -Tangan Terbuka Media!