
Mari kita bicara soal providensia Dei: Pemeliharaan atau penyelenggaraan Ilahi!
Berkait providensia Dei, orang Jawa biasanya menganjurkan sikap hidup pasrah. Tak sepenuhnya salah. Namun, menjadi sangat salah ketika sikap pasrah hanya dimengerti sebagai sikap pasif, menunggu, tanpa berbuat apa-apa.
Padahal, menurut Rm. Franzs Magnis Suseno dalam bukunya Etika Jawa, istilah pasrah tidak berarti pasif. Pasrah berarti manusia, setelah melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Ini jelas alkitabiah.
Alkitab memperlihatkan bahwa Allah tidak bekerja sendirian. Allah melibatkan manusia untuk mewujudkan rencana-Nya. Persoalannya: apakah manusia mau menanggapi panggilan Allah itu atau tidak? Di sinilah kehendak bebas manusia.
Kisah Elia dan Janda di Sarfat (1Raj. 17:9-24) bisa menjadi teladan. Allah ingin memberi Elia makan melalui seorang janda di Sarfat. Itulah skenario besarnya. Elia bisa saja menolak pergi ke Sarfat. Sang Janda pun bisa saja menolak permintaan Elia karena diri sendiri dalam keadaan kurang. Baik Elia maupun janda itu memiliki kehendak bebas.
Demikianlah: Rencana Allah bisa diibaratkan skenario dan manusialah pemerannya. Di atas panggung manusia bebas mengekpresikan diri. Dan Allah menghargai kehendak bebas itu. Manusia bukan robot. Oleh karena itu, istilah yang dipakai di sini memang bukan panggung boneka atau pertunjukkan wayang, di mana Allahlah dalangnya.
Ketika panggung itu dibuka Sang Sutradara memberi kebebasan penuh kepada para pemain-Nya untuk berekspresi. Bahkan Sutradara pun merasa tak perlu menghentikan pertunjukkan, jika ada pemain yang melakukan kesalahan. Pertunjukan harus terus berlangsung. The show must go on!
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa