👁️

”Kamu sendiri pun memang tahu, Saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antara kamu tidaklah sia-sia” (1Tes. 2:1).  

Paulus pribadi transparan. Tak ada yang disembunyikan. Ia mengajak orang-orang yang pernah dilayaninya untuk mengambil kesimpulan mengenai pelayanannya selama di Tesalonika. Jika pelayanan Paulus sungguh tak berterima di mata warga jemaat di Tesalonika, apa yang ditulisnya akan dianggap asbun.

Menariknya lagi, Paulus menggunakan ragam komunikasi tulisan. Kalau hanya lisan, ketika ada orang yang sungguh tahu situasinya, Paulus bisa mengelak. Paulus tak mungkin mengelak karena semuanya telah tertulis—hitam di atas putih.

Paulus juga pribadi terbuka. Ia siap diaudit oleh orang-orang yang pernah dilayani. Ia mengajak juga pembaca suratnya untuk mengevaluasi kinerjanya. Dan Paulus berani berkata bahwa pelayanannya di Tesalonika tidak sia-sia. Adakah kesan arogan dalam kalimat ini?

Selanjutnya, inilah yang menghapus kesan arogan, Paulus menulis: ”dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat” (1Tes. 2:2). Kesuksesannya bukanlah karyanya sendiri, tetapi karena pertolongan Allah.

Karena itu, Paulus sungguh-sungguh menjadikan dirinya sebagai rekan sekerja Allah. Perhatikan kalimat selanjutnya: ”Sebab, nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya” (1Tes. 2:3). Inilah yang dimaksud integritas.

Dan sebagai pribadi yang berintegritas, Paulus menulis, ”kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita” (1Tes. 2:4). Mengapa? Karena Paulus sadar benar bahwa pelayanannya anugerah Allah semata.

Juga dalam pekerjaan sekuler. Jika kita meyakini bahwa pekerjaan kita adalah anugerah Allah, kita juga dipanggil—ketika harus memilih—untuk lebih menyenangkan Allah ketimbang manusia. Persoalannya, sering kali memang di sini, agar jabatan langgeng, tak sedikit orang memilih menyenangkan atasan kita ketimbang Allah. Padahal, jika mau ditelusuri lebih dalam, bukankah pekerjaan, betapa pun sekulernya, adalah anugerah Allah?

Yoel M. Indrasmoro