
Kisah Orang-orang Bertalenta
Barak gentar. Debora meminta dirinya memimpin sepuluh ribu bani Naftali dan Zebulon melawan Sisera. Sepuluh ribu bukan jumlah sedikit. Namun, dibanding pasukan kaveleri Sisera dengan 900 kereta besi, belum lagi pasukan infantrinya, sepuluh ribu seakan tak berarti. Apalagi, Barak tak memiliki satu pun kereta besi.
Rasa gentar membuat Barak berkata terus terang kepada Debora: ”Jika engkau ikut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak ikut maju aku pun tidak maju” (Hak. 4:8). Rasa takut itu wajar. Yang tak wajar, orang begitu dikuasai ketakutan hingga lupa potensi diri.
Padahal, Debora Sang Nabiah, menegaskan: ”Bukankah Tuhan, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dan bawalah sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama engkau, dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta dan pasukannya menghadapi engkau, ke Wadi Kison, dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu” (Hak. 4:6).
Dalam kalimat Debora tersurat dua hal penting. Pertama, itu adalah perintah Tuhan. Tuhan memberi perintah. Perintah itu bukan tanpa dasar. Di mata Tuhan, Barak mempunyai talenta memimpin sepuluh ribu orang. Ada kepercayaan di balik perintah. Kedua, Tuhan berjanji mendukung Barak. Bahkan Ia berjanji akan menyerahkan Sisera ke tangan Barak. Hanya saja, Barak tak terlalu percaya diri.
Kisah ketakpercayaan diri tak hanya monopoli Barak. Sang Guru dari Nazaret pernah berkisah tentang seorang hamba yang lebih suka menyembunyikan talenta ketimbang mengembangkannya (Mat. 2518). Mengapa? Ia takut rugi. Ia takut jika talenta itu malah menyusut. Memang senantiasa ada risiko. Tetapi, hanya menyembunyikan di dalam tanah tidak akan membawa perubahan apa pun. Hamba itu lebih menyukai status quo.
Dibandingkan hamba yang mendapatkan kepercayaan lima talenta, satu talenta terlihat sedikit. Tetapi, satu talenta setara 6.000 dinar. Satu dinar adalah upah harian pekerja kasar. Jika upah harian itu sebesar Rp150.000,-, maka satu talenta setara Rp900 juta (6.000 x Rp150.000). Kecilkah? Pasti tidak! Namun, ya itu tadi, hamba yang mendapatkan satu talenta lebih suka menyembunyikannya talentanya di dalam tanah.
Ia beralasan: ”Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana Tuan tidak menabur dan memungut dari tempat Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan itu di dalam tanah. Ini, terimalah kepunyaan tuan!” (Mat. 25:24-25).
Hamba itu malah takut ketika kepadanya dipercayakan satu talenta. Ia tidak bangga seperti dua hamba lainnya. Saking takutnya, ia menyembunyikan talentanya. Ia pikir, Sang Tuan pastilah maklum. Lagi pula, bukankah ia tidak merugikan Sang Tuan? Bukankah uang Sang Tuan itu tetap jumlahnya dan tidak berkurang.
Akan tetapi, di mata Sang Tuan, dia adalah seorang hamba yang jahat dan malas. Ia jahat karena telah berprasangka buruk terhadap tuannya. Ia malas karena dia lebih suka menyembunyikan uang tersebut. Dan yang pasti, ia lupa bahwa sesungguhnya Sang Tuan sangat mempercayainya.
Yoel M. indrasmoro
Foto: Istimewa