
Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali
Mengampuni bukan perkara mudah. Terutama jika kita sudah berulang kali dikecewakan. Sekali dua kali mungkin tak jadi soal. Untuk kali ketiga, mungkin kita bergumul keras.
Sejatinya kita tidak sendirian. Petrus juga memiliki persoalan yang sama. Karena itu, ia bertanya, ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21).
Sang Guru menjawab, ”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22). Simon pasti terkejut. Bagi dia, angka tujuh sudah terlalu banyak. Yesus menuntut lebih banyak: 70 kali dari yang diajukan Petrus. Yesus pun menceritakan sebuah perumpamaan (Mat. 18:23-34).
Kisah Hamba yang Jahat
Hamba dalam perumpamaan itu memang tak tahu diri. Raja pun bingung dibuatnya—bahkan menyebutnya jahat—sembari bertanya, ”Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (Mat. 18:33).
Di mata raja, hamba itu jahat karena tak tahu diri, tak tahu diuntung, dan tak tahu balas budi! Ia hanya menuntut haknya atas kawannya dan lupa—mungkin melupakan—semua kewajibannya terhadap raja telah dihapuskan!
Ia berutang 10.000 talenta kepada raja. Itulah jumlah uang yang bisa dibayangkan saat itu. Satu talenta setara 6.000 dinar dan satu dinar adalah upah harian pekerja kasar waktu itu. Jika upah harian pekerja kasar saat ini kita tetapkan Rp150.000,-, hamba itu berutang Rp9 triliun! Dan raja menghapusnya! Akan tetapi, hamba, yang telah dihapuskan utangnya itu, tetap menuntut utang temannya sebesar 100 dinar—setara Rp5 juta. Mengapa?
Pertama, hamba itu tak pernah merasa diampuni! Orang yang tak pernah menerima ampun mustahil memberi ampun. Apa yang hendak diberi jika dia tak pernah punya ampun?
Mungkin ia berpikir, meski tak bayar utangnya, raja tak akan jatuh miskin. Ia melihat tindakan raja itu wajar! Hamba itu melihat penghapusan utangnya sebagai hal biasa.
Sesungguhnya raja berbuat di luar kebiasaan. Semula raja memerintahkan agar hamba itu beserta keluarganya dijual sebagai budak untuk melunasi utangnya. Kemudian, raja membebaskannya. Raja mengubah titahnya. Ini bukan hal biasa, bahkan luar biasa.
Kedua, hamba itu berprinsip utang harus dibayar. Ia nggak mau rugi. Tak beda dengan prinsip Yahudi: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Uang Rp5 juta memang tidak sedikit, tetapi dibanding Rp9 triliun hampir enggak ada artinya.
Utang memang harus dibayar. Namun, berkenaan dengan kesalahan orang lain—yang kadang disengaja dan sering tidak disengaja—Yesus mengajak pengikut-Nya untuk mengampuni. Alasan-Nya: ”Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu (Mat. 18:35). Dengan kata lain, kalau kita berhitung dengan sesama, Allah pun siap mengadakan perhitungan dengan kita.
Ketiga, hamba itu tidak mau meningkatkan kedudukan kawannya. Tindakan sang raja telah membuat kedudukan antara raja dan hamba itu setara—tak ada lagi utang. Tindakan hamba itu, menjebloskan rekannya ke penjara, menjadikan rekannya tetap berkedudukan lebih rendah dari dia.
Mengampuni berarti memulihkan hubungan. Mengampuni berarti tiada lagi orang yang berutang kepada kita. Mengampuni berarti setaralah kedudukan kita dengan orang tersebut. Mengampuni berarti mengasihi. Itulah makna terdalam Kerajaan Surga.
Kisah Yusuf
Itu pulalah yang diperlihatkan Yusuf. Ketika Yakub meninggal, seluruh saudaranya merasa takut akan kemungkinan balas dendam. Karena itu, mereka memohon belas kasihan Yusuf dengan perantaraan orang lain karena jeri berhadapan langsung.
Yusuf menangis karena saudaranya masih berpikir ia akan membalas dendam. Di hadapan mereka, Yusuf berkata, ”Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan, untuk mewujudkan apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup banyak orang” (Kej. 50:22).
Yusuf melihat kejahatan saudaranya dari sudut pandang Allah. Ia tahu, tidak ada sesuatu pun terjadi atas dirinya tanpa seizin Allah. Allah mengizinkan hal buruk terjadi untuk menyatakan kebaikan-Nya bagi umat-Nya. Yusuf memercayainya. Karena itulah, dia mampu mengampuni saudaranya!
Bagaimana dengan Anda?
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa