👁️

Bukan Pilihan

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Menyaksikan kembali nasihat-nasihat Paulus kepada warga jemaat di Efesus (Ef. 4:17-32) memperlihatkan kepada kita pentingnya hidup dalam kebenaran Allah. Hidup dalam kebenaran Allah bukanlah pilihan, tetapi konsekuensi. Sebab, di dalam Kristus kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Artinya kita dipanggil untuk menampakkan diri sebagai anak-anak Allah.

Untuk itu Paulus tampaknya sengaja menggunakan istilah dunia busana: Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Aneh rasanya mengenakan busana lama dan baru sekaligus. Yang satu harus ditinggalkan dan yang baru harus dikenakan. Tidak bisa juga hanya menanggalkan, tetapi tidak mengenakan. Itu namanya: telanjang. Panggilan kita adalah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.

Pertama, ”Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota” (Ef. 4:25). Perhatikan kata buang yang dipakai; artinya tidak melakukannya lagi. Berkata benar memperlihatkan dengan jelas bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Kedua, ”Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu (Ef. 4:26). Marah boleh, berbuat dosa jangan. Marah akan menolong orang mengetahui perasaan kita. Namun, jangan sampai membuatnya sakit hati. Tak perlu juga terus-terusan menyimpan amarah. Itu hanya akan membuat kita kebakaran sendiri.

Ketiga, ”Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi” (Ef. 4:28). Manusia dipanggil untuk bekerja. Jika tidak, itu hanya akan menyusahkan orang lain. Dan bekerja bukan cuma untuk mendapatkan uang, tetapi agar kita mampu memberi.

Keempat, ”Janganlah perkataan kotor keluar dari mulutmu” (Ef. 4:29). Kata-kata kita mesti membangun orang lain. Kalau mematikan, sebaiknya diam. Hati-hati juga dengan pesan WA kita! Itu berarti kita dipanggil juga untuk ”menggarami gawai kita”.

Kelima, ”Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah” (Ef. 4:30). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Janganlah menyedihkan hati Roh Allah.” Mengapa? Sebab, kita adalah anak-anak Allah. Mana ada anak normal sengaja membuat sedih orang tuanya?

Keenam, ”kepahitan… hendaklah dibuang dari antara kamu” (Ef. 4:31). Sakit hati jangan dipelihara. Itu hanya akan membuat kita makin sakit. Hanya orang bodohlah yang memelihara penyakit. Pengampunan adalah kunci.

Semuanya itu, sekali lagi, bukan pilihan mau atau tidak, tetapi konsekuensi logis. Kalau enggak dilakukan malah aneh.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa