
Di Atas Batu Karang Ini…
”Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku.” (Mat. 16:18). Demikianlah kalimat yang keluar dari mulut Sang Guru saat menanggapi pengakuan para murid, yang diwakili Simon Petrus.
Kalimat tadi menyiratkan bahwa Yesus, Allah yang menjadi manusia itu, adalah Pribadi yang berjanji. Ada kata akan dipakai di sana. Artinya, belum terjadi. Yesus, Allah yang menjadi manusia itu, memang gemar mengikatkan diri-Nya pada sebuah janji.
Dalam kalimat ini jelas bahwa Gereja adalah milik Yesus Kristus. Kalimat ini sengaja digaungkan kembali karena persoalan kerap muncul ketika manusia mulai mengampanyekan diri selaku pemilik jemaat. Sewaktu manusia mulai merasa dirinya sebagai pemilik Gereja, dan bukan Tuhan, masalah mulai bersemi.
Konsekuensi
Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku. Gereja berdiri di atas batu karang. Karena itulah, kita tak perlu cemas akan nasib Gereja selanjutnya. Sebab, ia berdiri di atas batu karang dan bukan di atas pasir. Dan karena itu, akan kokoh berdiri.
Namun, jangan pula kita lupa, berdiri di atas batu karang berarti juga terus berada dalam terpaan ombak. Berdiri di atas batu karang berarti tiada satu hari tenang tanpa hempasan ombak. Ini konsekuensi. Gereja akan terus dihantam ombak. Ombaknya bisa kecil, bisa juga tsunami. Kenyataan ini kadang membuat kita cemas.
Tapi, sekali lagi, baiklah kita ingat, berdiri di atas batu karang merupakan jaminan bahwa gereja akan tetap berdiri. Bagaimanapun, gereja berdiri di atas batu karang. Ia tidak berdiri di atas pasir.
Dan batu karang itu adalah pengakuan iman. ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Dasar utama Gereja bukanlah daya, dana, maupun teologi. Ketiganya penting, namun semua itu konsekuensi logis, yang bersumber pada pengakuan iman.
Ketika hanya berkonsentrasi pada daya tanpa pengakuan iman Gereja menjadi sibuk tanpa dasar dan arah. Ketika hanya berkonsentrasi pada dana tanpa pengakuan iman Gereja menjadi kaya, namun enggan memberi. Ketika hanya berkonsentrasi pada teologi tanpa pengakuan iman Gereja menjadi piawai bicara tanpa aksi.
Pengakuan iman adalah dasar utama gereja. Bicara soal pengakuan iman berarti bicara soal pembinaan. Bicara soal pembinaan berarti bicara pula soal kualitas ajaran. Gereja harus senantiasa belajar agar setiap warga jemaat mampu membedakan antara ajaran benar dan palsu. Dan kualitas ajaran tidak terletak di pundak para pejabat gereja, namun di pundak setiap warga jemaat. Gereja harus mau menjadi gereja yang belajar.
Nasihat Paulus
Berkait pembelajaran, Paulus menasihati Jemaat di Roma agar berubah oleh pembaruan budi mereka.
Berubahlah. Gereja yang berubah ialah Gereja yang peka terhadap perubahan dunia ini. Bukan berarti harus melulu ikut tren dan arus dunia. Tidak sama sekali. Tapi, berubah di sini merupakan upaya Gereja untuk tetap bersifat, bersikap, dan bertindak kontekstual. Bagaimanapun, Gereja tidak berada dalam ruang hampa. Gereja senantiasa berada dalam konteks (ruang dan waktu).
Pembaruan Budimu. Perubahan yang dimaksud dalam kalimat ini bukanlah tanpa dasar. Dan dasarnya ialah pembaruan budi. Bukan pembaruan budi orang lain, tapi pembaruan budi kita sendiri (umat). Budi yang diperbarui (renewing of minds). Budi di sini dapat juga diartikan sebagai akal-budi; nalar-hati; atau nalar-rasa. Ada kaitan antara pikiran dan perasaan. Budi sendiri melingkupi keutuhan manusia, yakni: apa yang dia pikir, rasa, dan tindak!
Jelaslah berubah di sini memang tidak asal berubah. Perubahan didasarkan pada pembaruan budi yang akan menolong setiap hidup seturut kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan sempurna.
Konkretnya: Orang yang mempunyai karunia untuk mengabarkan berita dari Allah, harus mengabarkan berita dari Allah itu menurut kemampuan yang ada padanya. Orang yang mempunyai karunia untuk menolong orang lain, harus sungguh-sungguh menolong orang lain. Orang yang mempunyai karunia untuk mengajar, harus sungguh-sungguh mengajar. Orang yang mempunyai karunia untuk memberi semangat kepada orang lain, harus sungguh-sungguh memberi semangat kepada orang lain. Orang yang mempunyai karunia untuk memberikan kepada orang lain apa yang dipunyainya, harus melakukan itu dengan murah hati secara wajar. Orang yang mempunyai karunia untuk memimpin, harus sungguh-sungguh memimpin. Orang yang mempunyai karunia untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, harus melakukannya dengan senang hati.
Jika umat Tuhan sungguh-sungguh mau melakukannya, secara tak langsung kita menggenapi nubuat Yesaya: ”Pengajaran akan keluar dari -Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa.” (Yes. 51:4). Dan semuanya itu berawal dari pengakuan iman sebagai umat pilihan-Nya.
Ya, sebuah pengakuan iman: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Inilah pengakuan iman para murid perdana. Dan ini jugalah pengakuan iman Gereja selanjutnya. Pengakuan iman inilah yang selanjutnya akan menolong Gereja bersikap dan bertindak.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa