
Sungguh Berbeda
Bacaan Injil, yang disediakan leksionari pada Minggu 16 Agustus 2026, memperlihatkan dua respons berbeda (Mat. 15:10-28). Konteks keduanya sama: Percakapan dengan Yesus Orang Nazaret. Namun, tanggapan kawan bicara Yesus sungguh berbeda.
Beberapa Orang Farisi dan Ahli Taurat
Berkait percakapan Yesus dengan beberapa orang Farisi dan ahli Taurat, penulis Injil Matius mencatat: ”Kemudian datanglah murid-murid dan bertanya kepada-Nya, ’Tahukah Engkau bahwa perkataanmu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?’” (Mat. 15:12). Menurut para murid, orang-orang Farisi—yang teguh berpegang pada Taurat dan menaatinya secara ketat—tersinggung oleh perkataan Sang Guru.
Kata-kata Sang Guru memang keras. Ia mengkritik ketetapan—telah membudaya—yang dipakai orang untuk lepas dari kewajibannya. Misalnya, soal menghormati orang tua. Banyak orang, supaya terlepas dari kewajibannya, menyatakan di depan umum bahwa mereka telah mempersembahkan dana pemeliharaan orang tua kepada Allah. Mereka tidak dapat disalahkan karena dana pemeliharaan itu telah menjadi milik Allah.
Yesus tentu tahu bahwa perkataan-Nya itu membuat pendengarnya tersinggung. Akan tetapi, sepertinya Sang Guru berharap pendengarnya tak hanya tersinggung, tetapi terbuka untuk bercermin dan, akhirnya, mengubah diri. Namun, apa mau dikata, mereka cuma tersinggung. Karena itu, wajarlah jika Sang Guru berkomentar ”Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya” (Mat. 15:13).
Tanggapan Yesus memperlihatkan dengan tegas bahwa hal menjadi pengikut Kristus atau tidak merupakan prerogatif Bapa sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat mengangkat dirinya menjadi milik Allah. Allah sendirilah yang memilihnya. Pada titik ini orang-orang Farisi itu tidak mampu, karena memang tidak mau, mempertahankan status diri sebagai umat pilihan.
Perempuan Kanaan
Sebaliknya, perkataan Yesus—”Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”—tidak membuat perempuan Kanaan tersinggung, tetapi menguatkan dia bahwa berkat Allah tidak hanya untuk orang Israel.
Kalimat Yesus keras, namun benar, Allah cinta segala bangsa dan memilih Israel untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Umat Israel dipanggil untuk mewujudkan kerinduan Allah itu.
Itu jugalah yang dinubuatkan Yesaya: ”Orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan menjadi hamba-hamba-Nya, semua yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang pada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi sukacita di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan pada kurban-kurban bakaran dan kurban-kurban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”
Sepertinya inilah yang diyakini perempuan Kanaan itu. Meski bukan bangsa pilihan, ia percaya bahwa berkat Allah juga untuk dirinya dan anaknya. Karena kepercayaannya itulah dia tetap berseru, ”Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud!”
Ia tetap berseru meski Yesus tidak menanggapinya dengan baik. Mengapa? Sebab, ia percaya kepada Anak Daud. Ketika Yesus berkata, ”Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”; ia mendekat, bahkan menyembah, dan berkata lirih, ”Tuhan, tolonglah aku.” Ia sepertinya tahu bahwa Sang Guru tak bisa dipaksa. Itu hak Dia! Namun, ketika Yesus menyatakan bahwa enggak patut mengambil roti yang disediakan untuk anak-anak dan melemparkannya kepada anjing, ia melihat celah bahwa anak-anak normal biasanya senang berbagi. Dan itulah yang diharapkannya.
Perhatikan, sapaan ”Anak Daud”, yang digunakan! Di mata perempuan Kanaan itu, Yesus Orang Nazaret adalah anak-anak yang senang berbagi. Dan memang itulah yang biasa dilakukan-Nya.
Sikap dan tindakan Perempuan Kanaan itu memang sungguh berbeda jika dibandingkan beberapa orang Farisi dan ahli Taurat.
Lalu, apakah yang mesti kita, orang-orang percaya abad ke-21, perbuat? Bersikaplah sebagai anak-anak Allah. Keselamatan maupun berkat bukan hanya untuk kita. Orang lain juga membutuhkannya.
Berbagilah! Toh kita pun cuma diberi!
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa