👁️

Ibadah yang Sejati

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Perumpamaan Yesus, tertera dalam Matius 21:28-32, memang gamblang. Ada dua anak. Yang satu mulanya bilang tidak, namun akhirnya berubah pikiran dan menaati perintah ayahnya. Yang lainnya bilang mau, tetapi tidak berangkat. Gamblang karena dibuat Yesus untuk menegur para pemimpin agama saat itu.

Perumpamaan itu tidak muncul dari kekosongan. Konteksnya: Percakapan Yesus Orang Nazaret dengan imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi yang mempertanyakan kuasa-Nya. Yesus menanggapinya dengan pertanyaan, ”Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?”

Para pemimpin itu merasa terpojok. Bila mengakui bahwa baptisan Yohanes itu dari surga, lalu mengapa mereka tidak percaya? Tapi, bila menyatakan karya manusia belaka, mereka akan menghadapi tentangan orang banyak yang percaya bahwa Yohanes datang dari Allah.

Yesus tampaknya hendak membuat para pemimpin itu menyadari sikap mendua dalam diri mereka. Mereka tak mau memberi jawaban lugas dan hanya berkata, ”Kami tidak tahu!” Yesus pun menutup pembicaraan karena mereka tahu yang benar, tetapi tidak mengakuinya.

Makna Perumpamaan

Para pemimpin Yahudi bersikap seperti anak yang berkata ya, tetapi tidak melakukan yang diharapkan. Orang- orang yang mereka anggap rendah, yakni para pemungut cukai dan pelacur, sebaliknya seperti anak yang pada mulanya menolak permintaan sang ayah, namun kemudian menyesal dan menurut.

Pengertian ”menyesal” dalam perumpamaan bisa dipahami sebagai ”memikirkan kembali” atau ”meninjau kembali keputusan yang telah dibuat”. Ada usaha untuk tidak membiarkan diri terpancang pada satu pandangan mati. Meski jelas mengatakan tidak mau, tetapi ia akhirnya berangkat pergi juga. Boleh jadi ia mulai berpikir mengapa sang ayah memintanya bekerja. Apa tidak ada pekerja? Apa memang amat perlu? Tidak dijelaskan dalam perumpamaan alasan sang ayah. Namun, anak pertama jelas mengerti maksudnya. Dan ia yakin sebaiknya menuruti. Inilah pertobatan.

Mari kita telaah kembali kalimat sang ayah: ”Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur!” (Mat. 21:28). Kalimat ini bukanlah sebuah perintah keras, melainkan tawaran halus. Terasa juga sapaan yang penuh kasih sayang. Isi permintaannya sendiri tidak amat berarti. Ada banyak orang yang menunggu untuk dipekerjakan di kebun anggurnya. Sang ayah meminta anaknya bekerja di sana justru karena ia mau menawarkan kesempatan. Dan lebih khusus lagi, ia menawarkan kesempatan bekerja ”hari ini”.

Perumpamaan ini menekankan hubungan orang tua dan anak. Ayah itu meminta, demi kepentingan anak, sehingga menaati permintaan itu sungguh logis. Bukankah anak-anak itu sejatinya sudah mendapatkan semua kecukupan dari orang tuanya. Dan ayahnya meminta mereka bekerja di kebun anggurnya mereka sendiri. Uniknya ada yang tidak menaatinya.

Ketidaktaatan itu sebenarnya patut dipertanyakan mengingat hubungan antara orang tua dan anak tadi. Tidak taat kepada ayah tetangga itu wajar, tetapi enggak taat kepada ayah sendiri sungguh tak wajar. Sekali lagi, ini masalah hubungan.

Ibadah

Perumpamaan ini juga memperlihatkan hakikat dan konsekuensi hubungan. Ibadah sejatinya merupakan cara kita untuk menghayati hakikat dan konsekuensi hubungan kita dengan Allah. Jika kita memahami bahwa Allah—yang dikenal melalui Yesus Kristus—adalah Tuhan, serentak dengan itu kita berarti mengakui diri sebagai hamba Allah. Dan seorang hamba berarti menaati Tuhannya.

Allah menghendaki kita tidak hidup untuk diri kita sendiri. Keselamatan yang kita dapatkan perlu dibagikan agar orang lain bisa merasakannya juga. Menarik disimak, Paulus dengan sengaja memberikan nasihat konkret hidup sebagai hamba-hamba Allah: ”Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia” (Flp. 2:2). Semuanya serbase dan satu: sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.

Sekali lagi semua serbase dan satu. Mengapa? Sebab, Tuhannya satu. Dan untuk serbase dan satu itu, kita harus menyangkal diri—tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Yang ada seharusnya mengutamakan kepentingan orang lain dan saling memuji. Hanya dengan inilah umat Allah akan saling membangun satu sama lain.

Itu berarti kita dipanggil untuk belajar hidup sehati dengan kasih yang sama, dengan pikiran yang sama dan tujuan yang sama. Janganlah melakukan sesuatu karena didorong kepentingan diri sendiri, atau untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, hendaklah kita dengan rendah hati menganggap orang lain lebih baik dari diri kita sendiri (Flp. 2:2-3).

Tak gampang, tetapi inilah panggilan hidup dalam pertobatan. Tak mudah, namun inilah panggilan kita dalam hidup bersama!  Ini berarti menaruh pikiran dan perasaan Yesus Kristus dalam diri kita. Ingat Dialah Tuhan kita! Itulah ibadah yang sejati.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa