
Hari Tuhan
”Sungguh celaka mereka yang menginginkan hari TUHAN! Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang!” (Am. 5:18). Demikianlah kecaman Amos kepada umat Allah di Israel Utara. Menarik diperhatikan bagaimana Amos mengecam umat yang mendambakan hari TUHAN. Mendambakan hari TUHAN kok dikecam? Dan dikatakan bahwa hari Tuhan itu tak berguna bagi mereka. Hari Tuhan itu kegelapan, dan bukan terang. Hari Tuhan menjadi hari penghukuman buat mereka.
Yang dimaksud dengan ”hari Tuhan” dalam Perjanjian Lama menunjuk pada masa depan saat Allah akan bertindak dan akan mendatangkan keadaan yang sama sekali baru. Ini merupakan sesuatu yang baik. Mendambakan hari Tuhan. Merindukan kedatangan Tuhan.
Kisah Daud
Itu jugalah yang dikatakan Daud dalam mazmurnya: ”Tetapi, aku ini sengsara dan miskin; ya Allah, datanglah segera! Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku; ya TUHAN, janganlah berlambat!” (Mzm. 70:6). Daud sungguh mengharapkan tindakan Allah.
Menarik diperhatikan catatan redaksi berkait mazmur tersebut: ”Untuk pemimpin biduan. Dari Daud, pada waktu mempersembahkan kurban peringatan” (Mzm. 70:1). Kita—orang beriman abad ke-21—tentu memahami siapa Daud itu.
Sebagai manusia, ia memang tidak lepas dari kesalahan. Tetapi, kita juga tahu, saat menyadari kesalahannya, Daud bertobat. Ia tidak bersikukuh dalam kesalahannya, dan menganggap dirinya benar. Hidupnya sungguh diperkenan Allah.
Kisah Umat Israel Utara
Kisah hidup Daud secara signifikan sungguh-sungguh berbeda dengan umat Allah di Israel Utara. Melalui Amos, Allah mengecam mereka. Perhatikan kata-kata Amos yang menjadi penyambung lidah Allah: ”Aku membenci, Aku menghina perayaanmu, dan Aku tidak menyukai perkumpulan rayamu. Meskipun kamu mempersembahkan kepada-Ku kurban-kurban bakaran dan kurban-kurban sajianmu, Aku tidak suka, dan kurban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, tidak akan Kupandang” (Am. 5:21-22).
Inilah persoalan umat Allah Israel Utara. Pada masa itu banyak orang hidup makmur, ibadah dipentingkan, dan negeri Israel tampak damai. Namun, Amos melihat bahwa yang mengecap kemakmuran hanyalah para hartawan yang memperkaya diri dengan hasil penindasan dan ketidakadilan terhadap orang miskin. Orang menjalankan ibadah dengan hati yang tidak tulus, dan keadaan damai hanya tampak dari luar. Sehingga Amos mengimbau, ”Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Mzm. 5:24).
Allah, melalui Amos, menuntut umat Israel, sebagai hamba Allah, untuk senantiasa hidup kudus di hadirat Allah. Bukan sekadar kudus secara lahir, juga batin. Itu berarti hidup yang bertanggung jawab. Mengapa? Sebab, mereka adalah umat Allah. Milik Allah. Allah telah menjadikan mereka bangsa pilihan; dan karena itu harus hidup sesuai dengan cara Allah.
Kisah Penyambut Mempelai
Itu jugalah yang dilakukan gadis-gadis yang bodoh dalam perumpamaan Sang Guru dari Nazaret. Mereka tidak jahat, tetapi bodoh. Mereka tahu apa yang harus dilakukan sebagai penyambut mempelai, tetapi mereka tidak melakukannya. Sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Penyambut-penyambut mempelai adalah manusia-manusia pilihan. Sayangnya, gadis-gadis bodoh itu tidak hidup laksana manusia pilihan. Mereka tidak siap dengan perubahan. Tampaknya mereka tidak begitu serius dengan panggilan mereka.
Serius dengan panggilan. Itu jugalah yang mesti kita jalani sebagai umat pilihan Allah. Kita dipanggil untuk terus hidup kudus di hadirat Allah. Tak hanya lahir, juga batin. Ketika kita hidup kudus di hadirat Allah, kematian bukan soal, dan tak perlu ditakutkan.
Mengapa banyak orang takut mati? Sebab, mereka tidak serius dengan kehidupannya selama di dunia. Dan untuk mereka hari Tuhan sungguh kegelapan, dan bukan terang.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa