👁️

Gara-gara Kamu

Published by Yoel M. Indrasmoro on

”Oleh sebab itu, gara-gara kamu Sion akan dibajak seperti ladang, Yerusalem akan menjadi timbunan puing, dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang menghutan” (Mi. 3:12). Gara-gara kamu. Itulah tuduhan sekaligus vonis Allah.

Pemimpin

Yang dimaksud dengan kamu di sini— dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini—”Penguasa-penguasa kota memerintah untuk mendapat uang suap, imam-imam mengajar hukum TUHAN untuk gaji, dan nabi-nabi meminta petunjuk dari Allah untuk mendapat uang—lalu mereka semua mengira TUHAN ada di pihak mereka. Mereka berkata, ’TUHAN ada di tengah-tengah kita; kita tak akan ditimpa malapetaka.’” Sekali lagi, yang dimaksud kamu adalah para pemimpin Israel—raja, imam, dan nabi.

Gara-gara kamu. Kesalahan pemimpin tak hanya berdampak bagi dirinya sendiri. Sebab, para pengikut pastilah mengikuti pemimpinnya. Sehingga, ketika pemimpin salah, para pengikutnya pun turut bersalah. Memang, kemungkinan besar, mereka hanya ikut-ikutan. Namun, tetap saja salah dan akhirnya dihukum.

Inilah dampak sosial kesalahan seorang pemimpin. Tak hanya bagi manusia, juga bagi bangsa. Allah dalam Kitab Mikha mencanangkan penghancuran Israel sebagai bangsa dan pembuangan Israel ke Babel. Pemimpinnya salah, masyarakat dan bangsanya hancur.

Mengapa dampaknya begitu besar? Sebab, Allah, Sang Mahakudus, tak mungkin tinggal diam. Israel adalah umat Allah. Mereka seharusnya menjadi teladan nyata bagaimana umat Allah mesti hidup. Dan itu dimulai dari para pemimpinnya.

Keteladanan

Itulah yang ditekankan Yesus Orang Nazaret semasa hidupnya: ”Sebab itu, lakukan dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya” (Mat. 23:3).

Kata-kata Yesus mengenai ahli Taurat dan orang Farisi keras. Namun, bukan tanpa dasar. Mereka sibuk mengajarkan Taurat, tetapi tidak melakukannya. Mereka jago ngomong, sayangnya kosong.

Sang Guru tidak ingin para murid-Nya mengikuti jejak ahli Taurat dan orang Farisi itu. Yesus sungguh menekankan pentingnya keselarasan kata dan karya. Yesus mewajibkan para murid mengikuti jejak-Nya: kata berbuah dalam karya. Tindakan selaras dengan omongan.

Memang tidak mudah. Namun, itulah panggilan seorang Kristen—meneladan Kristus. Artinya: kita harus melakukan apa yang Kristus lakukan. Salah satu hal yang perlu ditiru: membicarakan apa yang dilakukan; dan melakukan apa yang dibicarakan sebagaimana Yesus Kristus—Firman yang menjadi manusia!

Yesus begitu berwibawa di mata orang-orang sezamannya karena perbuatan-Nya merupakan wujud nyata ucapan-Nya. Dan Ucapan-Nya merupakan rumus verbal perbuatan-Nya. Tidak lebih, tidak kurang. Dan Yesus Orang Nazaret ingin para murid-Nya mengikuti jejak-Nya—kata berbuah dalam karya.

Apa lagi, kalau seseorang dipanggil menjadi seorang guru, orang tua, atau pemimpin. Pada ketiga jabatan tersebut, keteladanan merupakan harga mati. Saat orang-orang yang berjabatan guru, orang tua, dan pemimpin tidak melakukan apa yang mereka ajarkan, jabatan itu akan tinggal nama tanpa arti. Lebih gawat lagi, jabatan itu malah menjadi bahan olok-olok.

Namun demikian, kecaman Yesus itu tak perlu membuat kita kecil hati! Jika sekarang kita memegang jabatan tersebut—entah sebagai guru, orang tua, maupun pemimpin—tak ada jalan lain kecuali menjadi teladan. Hanya dengan cara itulah kita akan mampu menjalani jabatan itu dengan sebaik-baiknya.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa