👁️

Di Puncak Nebo Musa Berdiri

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Di puncak Nebo Musa berdiri. Berdiri di atas dua masa: masa lampau dan masa datang. Berdiri di atas sejarah dan masa depan. Berdiri di atas kerelaan dan harapan. Rela untuk menerima semua yang terjadi dan harap membayangkan apa yang akan terjadi.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Tersadar bahwa manusia terbatas dan dibatasi waktu. Empat puluh tahun sudah dia memimpin Israel. Dan rasanya seperti baru kemarin saja. Empat puluh tahun berlalu, sejak panggilan Allah di tanah Midian.

Waktu bergulir. Tampak semakin cepat. Tak seorang pun sanggup menahannya. Musa pun tidak. Sang waktu terus berjalan, tak mau berhenti. Meninggalkan kenangan. Meninggalkan sisa harapan yang tak pernah menjadi kenyataan.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Senyum manis menghias wajah. Kenangan-kenangan indah membayang di wajahnya. Siapa sangka Israel dapat keluar dari Mesir? Musa pun awalnya ragu. Dia tak yakin mampu memimpin Israel. Sepuluh tulah menjadi bukti bahwa kemerdekaan bukanlah sekadar utopia. Kemerdekaan itu sungguh nyata dalam hidup.

Terbayang, bagaimana gentarnya hati Israel menghadapi Laut Teberau di depan dan tentara Mesir pimpinan Firaun di belakang. Maju salah, mundur pun salah. Baik maju maupun mundur, hasilnya sama saja: maut. Ya, maut mengintai dari belakang dan depan.

Namun, di bawah ancaman maut itu, Musa merasakan Tuhan hidup dan berkarya. Tangan Tuhan sendirilah yang menyelamatkan Israel dari maut. Pengalaman itu menyebabkan Musa makin meyakini bahwa Tuhan sendirilah yang telah menebus Israel dari lubang kubur. Tuhanlah penebus Israel.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Senyum masam tampak bertengger di wajahnya. Kenangan-kenangan pahit membayang di benaknya. Kemerdekaan yang mereka damba ternyata membawa konsekuensi yang tidak mudah.

Merdeka bukanlah perkara gampang. Merdeka bukanlah persoalan biasa. Bangsa Israel harus mampu mengisi hari-hari mereka sendiri. Dan ketika berusaha mengisi agenda hidup mereka sehari-hari, insaflah Musa bahwa sebagian besar bangsa Israel masih bermental budak. Mereka belum siap merdeka.

Ketika tantangan datang mereka lebih suka untuk memilih tinggal di Mesir dengan segala fasilitasnya. Mereka belum mampu mengurus diri sendiri. Orang yang terbiasa diperintah dan mohon petunjuk memang sulit berinisiatif dan menjadi kreatif. Dan kegagalan demi kegagalan menjadi daftar yang begitu panjang.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Senyum kecut terlihat di bibirnya. Tak pernah habis dipikirnya, Israel yang baru saja merasakan kasih dan keperkasaan Allah itu, begitu mudahnya berganti haluan. Di padang gurun Syur, setelah tiga hari lamanya mereka tak dapat menemukan air yang layak untuk diminum, kesetiaan telah berubah menjadi pengkhianatan. Pujian kepada Allah telah berubah menjadi cercaan. Sungut-sungut menjadi kebiasaan, disertai tuntutan, ”Apakah yang akan kami minum?”

Dan Allah kembali berkarya dalam hidup. Air yang pahit itu berubah rasa menjadi manis. Israel pun bersorak. Hanya sebentar. Kembali mereka menuntut. Tuhan berikan Manna. Israel pun bersorak. Cuma sekejap. Kembali mereka menuntut. Tuhan mengirimkan burung Puyuh. Pujian–cercaan. Doa–kutuk. ”Haleluya!”–”Adakah Tuhan di tengah kita?” Itulah kenyataan iman bangsa Israel. Puji Tuhan ketika semua keadaan baik, dan berubah menjadi gerutuan ketika situasi mulai memburuk.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Senyum pahit terbentuk di wajahnya. Makin bertambah pahit saat mengingat bagaimana Israel menggantikan Allah, yang telah berkarya dalam hidup mereka, dengan patung lembu emas bikinan sendiri.

Tak masuk di akal Musa ada orang yang begitu bodoh dan plin-plannya. Baru saja mereka berjanji mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, sekarang mereka membuat allah bagi diri mereka sendiri. Mereka berjanji, mereka pula yang mengingkari janji itu. Lidah memang tak bertulang.

Agaknya, Sepuluh Perintah itu baru menjadi konsumsi akal saja, dan belum menyentuh hati dan jiwa mereka. Masih sebatas eforia. Dan Allah murka. Tiga ribu nyawa orang Israel melayang sia-sia karenanya.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Tertegun. Tersadar, kesalahan bukanlah monopoli orang Israel saja. Tidak. Dia juga tak lepas dari kesalahan di masa lampau. Kesalahan yang berakibat fatal. Dia tidak diizinkan menginjakkan kaki di tanah terjanji.

Masih jelas dalam benak Musa, bagaimana marahnya Tuhan di Masa dan di Meriba. Dia pernah protes kepada Tuhan. Dia berdalih, kesalahan yang dibuatnya bukannya tanpa sebab. Kedegilan hati orang Israel yang tidak lagi percaya kepada Tuhanlah yang membuat Musa memukul gunung batu itu, meski Tuhan memintanya berbicara kepada batu itu untuk mengeluarkan airnya.

Namun, di titik ini Tuhan tidak mengenal kata kompromi. Musa bersalah. Kesalahannya menjadi semakin besar dan bermakna karena dia seorang pemimpin. Bagaimana pemimpin mengharapkan ketaatan anak buahnya, jika sang pemimpin sendiri tak lagi mentaati Tuhan?

Di puncak Nebo Musa berdiri. Sendiri. Merenungkan arti sebuah kegagalan. Cita-citanya, membawa bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan kandas di tengah jalan. Empat puluh tahun memimpin Israel menjadi sia-sia di matanya. Apa artinya semua mukjizat yang pernah diberikan Allah dengan lantaran dirinya, kalau Musa sendiri tak boleh memasuki tanah perjanjian? Kegagalan. Sekali lagi kegagalan.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Sendiri. Belajar menerima kegagalan. Dia mencoba memaknai kegagalan itu.  Menerima dengan rela kegagalan diri membuat Musa mampu bersyukur. Setidak-tidaknya, dia pernah merasakan apa yang namanya gagal. Dan tersadar, dia bukan superman. Dia hanya manusia biasa.

Musa pun tak ingin membiarkan kegagalan itu terus menghantui pikirannya. Tak ada gunanya. Malah akan membuatnya tambah menderita. Kerelaan menerima kegagalan berarti juga percaya bahwa Tuhan akan terus menyempurnakan jalan hidupnya.

Dan ternyata kegagalan Musa memasuki tanah Kanaan memberikan berkat lain—Musa harus menyiapkan Yosua. Kaderisasi menjadi tugas mulia karena manusia memang terbatas dan dibatasi waktu. Toh, masa Musa pun bisa berakhir kapan saja—masuk atau tidak masuk Kanaan—sehingga kaderisasi menjadi hal mutlak dalam hidup.

Musa merasa Yosua memang orang yang tepat. Bukankah hanya Yosua dan Kaleb yang percaya bahwa mereka akan memasuki Tanah Kanaan? Yosua dan Kaleb harus berdebat dengan kesepuluh pengintai lainnya yang jerih melihat sosok orang-orang. Dan Allah sendiri yang memilihnya. Musa hanya tinggal memolesnya, sehingga semua talenta yang ditanamkan Allah dalam diri Yosua semakin tampak dan menjadi berkat bagi orang lain.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Senyum kemenangan mewarnai wajah. Yosua telah siap menggantikannya. Senyum kemenangan menjadi semakin cerah karena Tuhan ternyata masih mengizinkannya memandang Kanaan dari jauh. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Memandangi Tanah Terjanji. Harapan besar membongkah di hatinya: Israel akan mempunyai tanah air sendiri. Mereka akan menjadi bangsa mandiri—berdiri di atas kaki sendiri. Meski demikian, ada tanya dalam hati, ”Apakah Israel akan mampu tiba di sana? Mungkinkah Israel mengalahkan bangsa yang kuat dan berkubu itu?”

Musa percaya, Tuhan mampu menolong Israel memasuki tanah Kanaan. Tetapi, apakah Israel mau ditolong Tuhan? Masalahnya sering kali memang di sini. Israel sering bersifat angin-anginan. Kadang percaya, kadang tidak. Kegalauan menguasai hati dan pikiran Musa. Harapan dan kecemasan sama besarnya.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Sendiri. Berdoa. Berdoa bagi Israel, agar tetap percaya kepada Tuhan. Berdoa pula bagi Yosua agar tetap setia memimpin Israel dan menaati Tuhan dengan sungguh.

Di puncak Nebo Musa berdiri. Sendiri. Berdoa. Menyerahkan semua pengharapan-Nya kepada Tuhan, yang menguasai masa lalu, masa kini, dan masa depan. Menyerahkan segala kekhawatiran kepada Tuhan, sumber segala pengharapan manusia.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa