👁️

Namaku Disebut

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Augustinus heran menyaksikan Monika, ibunya, setiap hari berdoa baginya. Ibunya mendoakan keselamatan dirinya. Sang Ibu berharap anaknya menjadi Kristen.

Augustinus lahir dalam keluarga beda agama. Ibunya seorang Kristen, sedangkan Patricius, ayahnya, menjadi katekumen di akhir hidupnya.

Sebagai orang yang dididik dalam budaya Yunani, tak mudah bagi dia memahami iman Kristen yang dianut ibunya. Tak masuk di akalnya, manusia seperti dirinya membutuhkan Juru Selamat.

Lebih tak masuk di akalnya lagi, Sang Juru Selamat itu ternyata hanya manusia biasa. Saat disalib pun, Orang Nazaret itu tampak tak berdaya di bawah kuasa Romawi. Layakkah disebut Juru Selamat dunia, jika Yesus sendiri gagal menyelamatkan diri dari siksa salib?

Namun sejarah mencatat, Augustinus akhirnya menjadi Kristen pada usia 32 tahun. Tak hanya Kristen, malah menjadi Uskup di Hippo. Dia dikenal sebagai peletak dasar-dasar kekristenan modern dan menjadi tokoh Kristen berpengaruh sekitar abad ke-4.

Doa Ibu

Dalam bukunya Confessiones, Pengakuan-Pengakuan,Augustinus menulis: ”Wanita itu dengan air matanya meminta kepada-Mu bukan emas atau perak, bukan salah satu harta yang fana dan berubah-ubah, melainkan keselamatan jiwa anaknya.”

Augustinus sadar, berkat doa dan kesalehan ibunya—setelah menganut agama-agama lain—dia menjadi Kristen.

Doa Monika terkabul setelah menunggu cukup lama. Beberapa bulan setelah pembaptisan Augustinus, Monika pun meninggal dunia. Monika meninggalkan dunia ini sebagai seorang ibu yang telah mengantarkan anaknya percaya kepada Kristus.

Tak hanya Augustinus yang berubah karena doa ibunya. Lima belas abad kemudian, Peter P. Bilhorn juga merasakan hal yang sama. Kenangan atas doa ibunya itu menggerakkan dia menggubah lagu My Name in Mother’s Prayer (Namaku Disebut).

Baik Augustinus maupun Bilhorn sama-sama merasakan kasih ibu. Kasih itu mereka pahami tak hanya melalui kata dan perbuatan, juga doa. Doa, yang maujud dalam tindakan sesehari, menjadi sarana ampuh bagi pertumbuhan iman anak.

Tugas Orang Tua Kristen

Salah satu tugas pokok orang tua Kristen ialah memperkenalkan Kristus kepada anak. Tentunya, tidak dengan paksa, melainkan lemah lembut. Melalui arahan yang baik, tak mustahil anak akan rela menganut kepercayaan orang tua.

Itu pulalah tugas setiap orang tua di Israel. Mazmur 78 menegaskan, setiap orang tua Yahudi bertanggung jawab memperkenalkan Allah kepada anak. Allah yang harus mereka kenalkan ialah Pribadi yang telah menyatakan kasih-Nya kepada mereka. Mereka dituntut mewariskan iman itu kepada anak. Dengan satu tujuan: anak mereka juga mewariskan iman tersebut kepada generasi berikutnya. Berkesinambungan dan tak berhenti.

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak sebelum memasuki lingkungan sosial yang lebih luas. Keluarga jugalah gereja pertama bagi anak. Dengan kata lain, orang tua semestinya berperan sebagai guru dan pendeta yang pertama bagi anak mereka.

Keluarga merupakan tempat pesemaian iman anak. Karena itu, keluarga haruslah menjadi tempat di mana iman diyakini, dipraktikkan, dan dituturtinularkan—diturunalihkan—kepada generasi berikut. Sehingga anak dengan kebebasannya sendiri akhirnya mampu mengambil keputusan untuk menjadi pengikut Kristus seperti orang tuanya atau tidak.

Agaknya, ada kaitan erat antara sikap orang tua dan pandangan anak tentang Allah. Mangunwijaya pernah menggambarkan hubungan keduanya. Jika orang tua otoriter, maka dalam benak anak, Allah adalah seorang yang sewenang-wenang. Allah adalah diktator, yang akan menghukum setiap kesalahan tanpa ampun.

Akhirnya, gambaran itulah yang berkembang dalam tindakan agamaniah anak tersebut hingga dewasa. Dia menjalani kewajiban agamanya, bukan karena dia sungguh ingin melakukannya, tetapi karena takut dihukum.

Jika demikian, keteladanan menjadi mutlak perlu dalam pewarisan nilai kristiani. Keluarga seharusnya tidak hanya tempat di mana iman itu diyakini dengan perasaan dan akal budi, tetapi juga dipraktikkan.

Artinya, tiada senjang antara yang diyakini dan yang diperbuat. Tak ada beda antara omongan dan tindakan. Hanya dengan cara itulah, anak akan sungguh mengenal Kristus. Selanjutnya, dia akan memperkenalkan Kristus kepada keturunan berikutnya.

Sehingga, makin banyak orang yang mampu bersaksi sekaligus bernyanyi, dengan sedikit perubahan, lagu Peter Bilhorn: Di doa ayah bundaku, ada namaku disebut.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa

n.b.: Dukung pelayanan digital kami via BCA-3423568450-Tangan Terbuka Media!