
Hidup di Hadirat Allah
”Jika bukan Engkau sendiri yang berjalan beserta kami, jangan bawa kami pergi dari sini. Lalu bagaimana orang akan tahu bahwa aku telah mendapat kemurahan hati-Mu, aku dan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan beserta kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dikhususkan bedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?” (Kel. 33:15-16).
Demikianlah permohonan Musa. Bagi dia penyertaan Allah merupakan bukti nyata bahwa Israel adalah umat Allah. Kehadiran Allah itulah yang membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain. Musa sungguh mengakui itu. Oleh karena itu, dia tidak ingin pergi tanpa Allah.
Keluarga Kristen
Itu jugalah yang membedakan keluarga Kristen dengan keluarga lainnya. Keluarga Kristen adalah milik Allah. Sebagai milik Allah mereka harus hidup seturut kehendak Allah.
Milik Allah dipanggil untuk menjadikan Allah sebagai Raja. Dan Allah adalah, sebagaimana kata pemazmur, ”Engkau Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya” (Mzm. 99:4). Itu berarti milik Allah harus hidup berdasarkan hukum Allah. Taat hukum bukan karena terpaksa, tetapi karena mencintai hukum.
Ya, mencintai hukum. Itulah yang mesti ditularkan para orang tua kepada anak-anak mereka. Anak-anak perlu ditolong untuk memahami makna di balik aturan. Agar mereka tidak merasa terpaksa mematuhi aturan. Mereka harus percaya bahwa menaati hukum adalah konsekuensi sebagai milik Allah. Dengan kata lain, setiap anggota keluarga dipanggil untuk senantiasa hidup di hadirat Allah. Itulah ibadah sejati.
Kewajiban sebagai Warga Negara
Itu jugalah yang ditegaskan Yesus Orang Nazaret: ”Berikanlah milik Kaisar kepada Kaisar dan milik Allah kepada Allah” (Mat. 22:21). Dengan lugas Yesus mengatakan bahwa setiap pengikut-Nya harus menjalani kehidupan negarawinya secara serius. Pemerintah memiliki seperangkat aturan dan setiap warga negara wajib menaatinya.
Namun demikian, Yesus juga tidak mau terjerembab ke dalam ketaatan buta terhadap pemerintah. Jawaban Yesus juga gamblang memperlihatkan bahwa keberadaan kaisar sesungguhnya lebih rendah ketimbang Allah. Bukankah Allah yang menciptakan kaisar, dan bukan sebaliknya? Artinya, ketika kaisar melakukan penyimpangan umat Allah wajib mengoreksinya!
Tindakan itu akan berdampak positif jika dan hanya jika setiap Kristen telah memenuhi kewajibannya selaku warga negara—salah satunya—dengan membayar pajak. Dengan kata lain: Jangan mengkritik pemerintah jika tak bayar pajak! Lagi pula, jika orang Kristen tak bayar pajak, lalu apa kata dunia? Sejatinya bertindak sebagai warga negara juga buah iman kita.
Belajar dari Jemaat di Tesalonika
Paulus menyatakan dengan jelas: ”Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita” (1Tes. 1:3).
Jelaslah, perbuatan baik kepada sesama merupakan buah dari kekristenan mereka. Mereka telah menjadi berkat. Itu jugalah yang ditunjukkan oleh simbol kekristenan: salib (vertikal dan horizontal). Hubungan baik dengan Allah berbanding lurus dengan hubungan baik dengan sesama. Iman kepada Allah membuahkan kasih kepada sesama. Hanya dengan cara demikianlah kasih itu tulus, bukan basa-basi. Tanpa itu, kasih kepada sesama akan jatuh dalam bahaya humanisme atau bisa jadi ada udang di balik batu.
Kesaksian warga jemaat di Tesalonika terpancar ke mancanegara. Kasih kepada sesama—yang berdasarkan kasih kepada Allah—akhirnya menjadi iklan dari kesaksian Kristen mereka! Sehingga orang bisa mengatakan: ”O, jadi begitu, ya, cara hidup Kristen itu!”
Inilah hidup di hadirat Allah. Inilah hidup yang beribadah.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa