
Tanpa Basa-basi
”Siapa yang menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi…” (Mat. 10:41).
”Menyambut” merupakan kata kerja. Ada gerakan dalam menyambut. Tak ada orang yang berpangku tangan saat menyambut orang lain. Tangan terbuka seolah ingin merangkul yang disambut.
Tak hanya tangan terbuka, wajah pun berseri. Enggak lucu bukan, tangan terbuka, tetapi wajah dingin tanpa ekspresi?
Baik tangan maupun wajah sejatinya cerminan hati terbuka. Jika hati tak terbuka, semua terkesan basa-basi. Dan semua basa-basi akan menjadi basi beneran.
Sejatinya, tak ada orang yang suka basa-basi. Siapa pun yang melakukan langsung akan menyadari ketidaktulusannya. Dan akhirnya menjadi malu sendiri.
Lagi pula, basa-basi tak gampang ditutupi. Orang yang disambut akan cepat menyadari bahwa semuanya itu cuma basa-basi. Sehingga pertemuan pun menjadi tanpa makna.
Tindakan menyambut mensyaratkan bahwa orang yang kita sambut merupakan pribadi yang sungguh penting. Dalam bukunya, Pelayanan yang Berpusatkan Kehadiran, Mike King menyatakan betapa semakin banyak anak muda yang sedang berjalan menjauhi gereja. Namun, pertanyaannya reflektifnya, tulis Mike King: ”Apakah mereka berjalan menjauh dari Yesus atau dari cara kita melakukan pelayanan gereja dan kaum muda?”
Tak hanya orang muda. Setiap orang perlu disambut dengan selayaknya—”menyambut nabi sebagai nabi”. Juga orang-orang yang akan kita temui hari ini. Dan, sekali lagi, tanpa basa-basi.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa