👁️

Buah yang Sesuai dengan Pertobatan

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Hamba Allah tak hanya status. Hamba Allah merupakan panggilan untuk menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Itulah titik tekan khotbah Yohanes Pembaptis—”Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan!” (Mat. 3:8). Dalam BIMK tertera: ”Tunjukkanlah dengan perbuatanmu bahwa kamu sudah bertobat dari dosa-dosamu.”

Yohanes Pembaptis tak asal ngomong. Dia sendiri telah hidup dalam pertobatan itu. Meski ada kesempatan baginya untuk menjadi Mesias, Raja yang dinanti-nantikan Israel, Yohanes Pembaptis tidak menghiraukannya. Bahkan, dia belajar untuk hidup miskin.

Matius menggambarkannya sebagai pribadi yang ”memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan” (Mat. 3:4). Jubah bulu unta adalah pakaian paling kasar waktu itu dan makanannya adalah belalang dan madu liar. Agaknya Yohanes Pembaptis mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Belajar hidup miskin adalah mengutamakan kebutuhan ketimbang keinginan.

Sewaktu pertama kali hendak membeli laptop seseorang tidak bertanya kepada saya berapa dana yang ada, tetapi rencananya laptop itu untuk apa. Setelah mengatakan bahwa laptop itu hanya digunakan untuk menulis, dia berkata, ”Ini sudah cukup, Pak!”

Dalam gereka Katolik ada kaul kemiskinan. Kaul kemiskinan tidak hanya persoalan menjadi miskin, tetapi juga tertib administrasi. Siap mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang kita miliki. Kaul kemiskinan berarti juga hidup hemat.

Anda mungkin bertanya, ”Lalu sisanya buat apa?” Kita belajar hidup hemat agar punya kesempatan untuk berbagi kepada orang lain. Zaman semakin susah. Karena itulah kita harus mau hidup hemat agar bisa berbagi. Dan itulah hidup yang berbuah!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa