👁️

Semua Serbalogis

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Semua serbalogis. Tindakan pemilik yang mencanangkan penghancuran kebun anggurnya sungguh rasional meski kita mungkin menganggapnya kejam (Yes. 5:5-6). Sebab, tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari kebun tersebut.

Jika kebun itu tidak menghasilkan buah setelah waktu cukup lama, mungkin masih dapat dilakukan beberapa tindakan agar menghasilkan buah. Akan tetapi, kebun ini hanya menghasilkan anggur asam. Artinya, hingga selama-lamanya kebun itu akan menghasilkan buah asam. Buah anggur asam tidak ada gunanya dalam industri anggur. Dan mustahil memperbaiki mutu buah anggur tersebut.

Menarik disimak, secara genetis kebun itu seharusnya menghasilkan anggur manis. Pokok anggurnya sungguh pilihan. Belum lagi jika kita ingat betapa subur lahannya. Kita bisa sependapat dengan Clements, buah anggur asam itu tidak disebabkan kesalahan genetis, juga bukan kelalaian pemilik, tetapi karena pokok anggur itu ingin menghasilkan buah asam.

Sejatinya, kebun itu mampu menghasilkan buah berkualitas baik. Namun, kebun itu hanya menghasilkan buah berkualitas rendah. Dan hukuman terhadap kebun itu logis. Itu jugalah yang biasa dilakukan para petani di Israel pada waktu itu. Sebab, terus memelihara kebun anggur yang hanya menghasilkan buah asam merupakan pemborosan.

Gambaran Umat Israel

Kebun anggur itu menggambarkan kondisi umat Allah pada abad ke-8 sM. Ketika Yesaya tampil pada th. 740 sM kerajaan Israel di bagian Utara masih ada. Bahkan kerajaan itu mengalami masa kemakmuran dan kejahteraan. Namun, kemakmuran itu disertai kemorosotan akhlak: ketidakadilan dan pemerasan dari pihak kalangan atas terhadap rakyat kecil merajalela.

Di mata Allah, Israel telah gagal mendemonstrasikan iman mereka. Umat yang telah dimerdekakan Allah itu lebih suka hidup semaunya sendiri. Mereka telah salah menggunakan kemerdekaan mereka. Mereka lupa, kemerdekaan adalah hak dengan sejuta kewajiban. Dan karena itulah Tuhan mencanangkan hukuman bagi umat-Nya!

Jika kita perhatikan kembali kebun tadi, sebenarnya kebun itu mampu menghasilkan buah manis. Namun, agaknya dia tidak mau memberikan buah seturut potensi yang ada dalam dirinya. Hal ini juga tampak dalam diri banyak orang yang tidak memberikan buah yang baik. Sekali lagi, bukan karena ketidakmampuan, tetapi lebih disebabkan karena ketidakmauan. Kuncinya ada pada kemauan. Dan buah yang baik itu ialah mengusahakan keadilan dan kebenaran!

Sebagai Israel baru, pengikut Kristus juga dituntut untuk berbuah manis. Dan buah manis itu ialah keadilan dan kebenaran! Mengusahakan keadilan dan kebenaran bukan perkara gampang, apalagi menyangkut orang banyak. Mustahil memang, meminta orang berubah. Tapi, kita dapat memulainya dari diri sendiri. Ini lebih realistis. Dan semuanya berdasarkan pada kesadaran diri.

Sadar Diri

Tak beda dengan kebun anggur itu, para penggarap dalam perumpamaan Yesus pada dasarnya memang lupa diri. Meski berstatus penyewa, mereka tak mau membayar sewa, memberontak terhadap Sang Pemilik. Mereka tak menggubris kesabaran dari Sang Pemilik dengan membunuh utusan-utusan, bahkan anaknya. Dan karena itu, Sang Pemilik pun menghukumnya!

Kisah para penggarap kebun anggur itu memang bertolak belakang dengan riwayat hidup Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus dengan gamblang menyatakan jati dirinya—”Disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, dan tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp. 3:5-6).

Akan tetapi, di dalam diri Paulus terdapat kesadaran baru, ”Tetapi, apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap kerugian karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena iman kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan iman” (Flp. 3:7-9).

Kesadaran diri Paulus inilah yang membuat dia hidup bukan dalam kebenarannya sendiri, tetapi dalam kebenaran Allah. Kalau penggarap-penggarap kebun anggur, juga Israel pada masa Yesaya, hidup dalam kebenarannya sendiri, Paulus hidup dalam kebenaran Allah. Dan hidup dalam kebenaran Allah  akan memampukan setiap orang bertindak adil dan benar!

Panggilan Hidup Berkeluarga

Pada titik ini, agaknya kita perlu juga memindai panggilan hidup berkeluarga kita. Kita semua mempunyai panggilan Allah dalam kita masing-masing, bisa sebagai suami, istri, orang tua, anak, kakek, nenek, cucu. Dan permasalahan besar dalam keluarga adalah karena kita menerapkan keadilan dan kebenaran menurut versi masing-masing! Kita dipanggil untuk menerapkan keadilan dan kebenaran berdasarkan keadilan dan kebenaran Allah sendiri!

Caranya sederhana: ”menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10). Dalam BIMK: ”turut menderita dengan Dia dan menjadi sama seperti Dia dalam hal kematian-Nya.” Mungkin di sinilah permasalahan terbesar keluarga: Nggak ada yang mau menderita! Nggak ada yang mau mengalah! Masing-masing inginnya menang sendiri!

Jalan yang diambil Yesus adalah jalan penderitaan! Setiap orang ada salibnya. Tak ada jalan lain, kecuali memikulnya! Dan itulah pribadi sadar diri! Setiap orang harus menjalaninya dengan penuh serius. Ketika dua orang mengikatkan diri sebagai suami dan istri, serentak dengan itu panggilan Tuhan atas orang yang hidup berkeluarga melekat dalam dirinya. Sama seperti ketika suami dan istri memperoleh anak, panggilan orang tua pun serentak melekat dalam dirinya. Dia harus mau menanggung itu sebagai orang yang telah dimerdekakan oleh Kristus. Itu berarti setiap keluarga harus hidup dalam kesadaran diri sebagai hamba Allah!

Jadi, bukan sekadar suami atau istri atau anak atau orang tua, tetapi kita adalah hamba Allah yang memegang tanggung jawab suami atau istri atau orang tua atau anak! Dan hidup berkeluarga berarti mau juga menderita sebagaimana Kristus. Dengan kata lain, jangan lepaskan salib saudara selaku anggota keluarga!

Dan semua itu serbalogis.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa