👁️

”Elia pun ketakutan, lalu pergi menyelamatkan dirinya” (1Raj. 19:3). Demikianlah catatan penulis Kitab 1 Raja-raja.

Mengapa takut? Bukankah dia telah membunuh semua nabi Baal atas pertolongan rakyat Israel. Bukankah dalam kuasa Allah hujan turun. Bukankah namanya Elia? Artinya Yahwe adalah Allah. Lalu, mengapa Elia seperti orang yang tidak percaya akan keperkasaan Yahwe?

Tak mudah memahami rasa takut yang menyergap Elia. Namun, yang pasti, saking takutnya Elia menyingkir. Dia meninggalkan Israel, ladang pelayanannya.

Tak hanya meninggalkan ladang pelayanan, Sang Nabi berkata, ”Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku.” (1Raj. 19:4).

Ingin mati memperlihatkan bahwa Elia merasa tak lagi punya harapan. Ia sungguh putus asa.

Allah Peduli

Meski demikian, penulis Kitab 1 Raja-raja mencatat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Meski, apa yang dilakukan Elia bukanlah sesuatu yang patut diteladan—meninggalkan ladang pelayanan dan ingin mati—Allah tetap peduli. Allah berkenan dan memulihkan dia (Mzm. 85:2).

Menarik disimak, Allah tidak langsung menghardik Elia berkenaan dengan keinginannya untuk mati. Tidak. Allah memberi makan Elia. Ada roti bakar dan kendi berisi air yang dikirimkan melalui malaikat.

Bahkan, ketika Elia, mungkin karena lelah hati, pikir, dan fisik, tidak begitu bersemangat makan. Malaikat itu kembali menyentuh Elia dan menasihatinya untuk makan hingga kenyang. Allah begitu sabar terhadap Elia! Yang pasti, Allah tetap hadir bagi Elia.

Memandang Yesus

Itu jugalah yang terjadi dalam diri para murid. Kisah perahu murid-murid yang diombang-ambingkan gelombang merupakan kisah kebanyakan orang (Mat. 14:23-27). Kita tidak pernah tahu kapan badai hidup datang. Cuaca bisa berubah dalam sekejap: angin semilir berubah menjadi sakal. Bagaimanakah menyikapinya?

Murid-murid Yesus, termasuk mantan nelayan andal, panik. Kepanikan itu menyiratkan bahwa angin itu bukan angin biasa. Pada titik itulah Yesus, Sang Guru, hadir. Ia tidak ingin para murid-Nya tetap dalam ketakutan mereka. Sayangnya, saking paniknya, para murid malah menyangka Yesus adalah hantu. Dalam situasi itulah Yesus berkata, ”Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!” (Mat. 14:27).

Dalam kondisi serbaribut Yesus menasihati murid-murid-Nya untuk tenang. Ketenangan merupakan kunci di sini. Hati yang tenang akan membuat mereka berpikir jernih. Ketenangan akan membuat mereka mampu membedakan antara hantu dan Tuhan. Soalnya: bagaimana cara kita menenangkan diri?

Pandanglah Yesus! Jika kita meyakini bahwa Dia adalah Tuhan, tak ada sesuatu pun yang luput dari pengamatan-Nya dan segala sesuatu ada di dalam kuasanya. Lagi pula, Dia tidak hanya berkuasa, tetapi juga sungguh peduli.

Petrus telah membuktikannya. Saat matanya memandang Sang Guru, dia mampu melakukan hal mustahil. Namun, saat matanya tertuju pada gelora air, dia kembali menjadi takut.

Ya, pandanglah Yesus! Sebab, Ia selalu ada untuk murid-murid-Nya. Dan saat kita memandang Yesus, kita pun akan dipulihkan.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa