
Apabila Saudaramu Berbuat Dosa
”Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatnya kembali” (Mat. 18:15).
Mengapa? Tentu bukan hanya karena soal hubungan yang akan menjadi renggang. Atau minimal saling tak enak satu sama lain. Juga bukan karena kita merasa lebih suci dari orang itu. Lebih dari itu, sejatinya kita ingin menyelamatkannya.
Yesus menasihati, jika hendak menegur, mulai dengan berdua saja. Baru setelah itu tiga orang. Dengan cara ini, orang tersebut tidak merasa dihakimi dan kesalahan yang dilakukannya tidak menjadi konsumsi publik. Alasan Sang Guru sangat sederhana: hanya dengan cara itulah kita akan mendapatnya kembali.
Yesus menekankan pentingnya memulai percakapan di antara dua orang saja. Percakapan antarhati memang hanya mungkin dilakukan dua orang. Kalau banyak orang, akhirnya menjadi percakapan banyak hati. Ujung-ujungnya menjadi sarasehan atau diskusi. Masak kesalahan orang menjadi bahan diskusi?
Itu berarti, cara menegur sungguh penting. Kalau menegur, tegurlah tanpa ada orang lain yang tahu. Langsung menegur di hadapan banyak orang—juga dalam grup WA—hanya akan membuat orang merasa dipermalukan, dihakimi, dan akhirnya melihat pembelaan diri sebagai jalan keluar terbaik; atau menutup telinganya.
Menjadi Nabi Allah
Ketika melakukannya, sejatinya kita sedang menjadi nabi Allah untuk saudara kita itu. Itu berarti kita sedang memberitakan firman Allah kepada orang tersebut. Kepada Yehezkiel Allah mengingatkan akan perannya sebagai penjaga. Allah menegaskan: ”Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi darah orang itu akan Kutuntut darimu” (Yeh. 33:8). Perhatikan: Allah menuntut pertanggungan jawab!
Berkait kata ”penjaga”, saya jadi teringat ucapan Kain ketika Allah menanyakan kabar Habel adiknya: ”Apakah aku penjaga adikku?” (Kej.4:9). Jelaslah bahwa kita bertanggung jawab atas orang-orang yang berada di sekitar kita. Dan teguran merupakan ekspresi dari sebuah tanggung jawab.
”Namun,” tegas Allah, ”jika engkau memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu (Yeh. 33:9). Menarik disimak, ketika kita menegur kita sedang menyelamatkan nyawa kita. Jelaslah Allah tidak ingin kita lepas tangan!
Itu jugalah yang dilakukan Paulus kepada warga jemaat di Roma. Dia menegur mereka agar mengenakan perlengkapan senjata Allah. Tentunya, teguran hanya akan efektif jika kita sendiri telah hidup seturut dengan firman Allah. Jika tidak, tentu kita sendiri tidak akan punya keberanian untuk menegur orang lain. Atau orang yang ditegur malah akan mencibir kita!
Dan karena itu, sungguh logis jika kita berseru sebagaimana pemazmur: ”Sungguh aku merindukan titah-titah-Mu, buatlah aku hidup dalam keadilan-Mu” (Mzm. 119:40).
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa