👁️

Dalam Kebenaran Allah

Published by Yoel M. Indrasmoro on

”Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Mat. 16:21).

Demikianlah catatan penulis Injil Matius. Ada keterangan waktu yang tampaknya sengaja ditempatkan: ”Sejak itu.” Mudah diduga itu merujuk pada kisah pengakuan para murid yang diwakili Petrus. Di daerah Kaisarea Filipi, Simon Petrus lantang berkata, ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:15).

Ketidakrelaan Petrus

Berpijak pengakuan iman Petrus itu, Yesus mulai menceritakan dengan jelas bahwa  Ia harus pergi ke Yerusalem dan mengalami banyak penderitaan dari pemimpin-pemimpin, imam-imam kepala dan guru-guru agama. Ia akan dibunuh, tetapi pada hari ketiga Ia akan bangkit.

Di sini persoalan muncul. Petrus tak rela Sang Guru mengalami derita. Mungkin bagi Petrus aneh rasanya kalau Sang Pembuat Kebahagiaan—melalui mukjizat-mukjizat-Nya—mengalami sengsara. Ini sungguh mustahil.

Dan Yesus marah. ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat. 16:23). Yesus menyebut Petrus Iblis karena dia telah menghalang-halangi  jalan Yesus untuk menyelamatkan manusia.

Sejatinya, Allah adalah sangkan ’asal” dan paran ’tujuan’ manusia. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Menjalani kehendak Allah merupakan tindakan logis agar manusia bisa kembali kepada Allah. Dan Petrus menghalang-halangi kehendak Allah itu.

Petrus agaknya lupa bahwa Sang Guru adalah Anak Allah yang Hidup. Mungkin Petrus tak terlalu suka dengan jalan derita yang akan ditempuh. Akan tetapi, itulah jalan yang dikehendaki Sang Guru. Dan menghalang-halangi jalan Sang Guru merupakan kebodohan semata!

Tentu Petrus punya pendapat. Jika ditelusuri pendapatnya ada benarnya. Bagaimana mungkin Yesus—yang biasa melepaskan manusia dari sengsara—menderita sengsara? Pendapat Petrus cukup masuk akal dan ada benarnya. Bisa jadi Petrus memang memahami bahwa kemesiasan Yesus adalah jalan kemuliaan dan bukan jalan derita.

Jalan Mesias

Namun, inilah jalan yang dipilih Yesus sendiri. Logika yang dikedepankan Yesus adalah Anak Manusia harus menanggung penderitaan. Itu memang bukan penderitaan-Nya, namun Yesus berinisiatif menanggung penderitaan itu, demi keselamatan manusia. Karena tak seorang pun yang mempunyai kapasitas menanggung penderitaan itu seluruh umat manusia kecuali Allah yang menjadi manusia. Inilah jalan Ilahi yang memang tak mudah dipahami oleh Petrus.

Mengapa Petrus tidak sependapat? Kemungkinan besar karena Petrus tidak cermat mendengarkan perkataan Yesus sendiri: menanggung penderitaan, dibunuh, dan dibangkitkan. Petrus kemungkinan besar tidak terlalu menyimak kata kerja ketiga—bangkit! Yang dipikirkannya hanyalah sengsara dan kematian-Nya.

Apa artinya semuanya itu? Tampaknya, sebagai murid kita perlu belajar mendengarkan hingga tuntas. Bahkan, ketika logika tak mampu memahami, baik jika kita tetap percaya karena Dia adalah Allah. Dan kebenaran Allah jauh lebih tinggi dari kebenaran manusia.

Wujud Praktisnya

Dan semua nasihat praktis Paulus (Rm. 12:9-21) merupakan wujud hidup dalam kebenaran Allah, dan bukan kebenaran diri sendiri. Hidup dalam kebenaran Allah berarti memikirkan apa yang dipikirkan Allah, dan bukan apa yang dipikirkan manusia.

Mari kita ambil satu tindakan sebagai contoh: ”Hendaklah kasih itu tulus ikhlas!” (Rm. 12:9). Tindakan mengasihi bisa berbahaya ketika tindakan itu tak lagi sepi pamrih. Bahkan itu menjadi kejahatan ketika dilakukan tanpa ketulusan. Ketika kita melakukan hal yang baik, mari kita bertanya dalam hati mengapa kita melakukannya. Apakah karena kita ingin dianggap baik? Itu artinya kita telah mencoba menjadi tenar. Ya, mengapa kita melakukannya?   

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa