👁️

”Pernahkah engkau melihat orang yang mahir dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Ams. 22:29). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Pernahkah engkau melihat orang yang cakap melakukan pekerjaannya? Orang itu akan dipekerjakan di istana raja-raja, bukan di rumah orang biasa.”

Jelaslah, ada kaitan antara kualitas kerja dan tempat seseorang dalam masyarakat. Pekerjaan orang yang terampil bekerja bukanlah di rumah orang biasa, tetapi di istana-istana raja. Dengan kata lain, hanya orang berkualitaslah yang akan diberi tanggung jawab besar. Mengapa? Sebab, mereka berkualitas. 

Ini hal lumrah. Bukan tindakan diskriminatif saat dunia memberikan pekerjaan-pekerjaan besar kepada orang-orang berkualitas. Kita pun sering melakukannya.

Contoh: Jika laptop kita rusak, apakah kita berani memercayakannya kepada sembarang orang untuk memperbaikinya? Tentu tidak! Bukannya makin baik, malah tambah rusak. Pastilah kita akan memercayakan laptop itu kepada ahlinya. Kita juga berani bayar mahal untuk itu. Gamblang terlihat: Kepercayaan kita terhadap seseorang berkait dengan kualitas pekerjaannya. Kepercayaan berbanding lurus dengan kualitas kerja.

Dan dunia membutuhkan kerja berkualitas. Jadi, jangan sekali-kali meremehkan kerja. Bicara soal kerja, sejatinya itu tidak hanya perkara fisik atau materi semata—yang kelihatan—melainkan juga hati. Kualitas kerja kita, bagaimanapun baiknya, tetap menjadi cela jika tidak berdasarkan ketulusan hati. Dan lambat laun, gaya macam begini akan membuat diri kita tidak berkualitas lagi.

Dengan kata lain, kita dipanggil untuk menghasilkan karya terbaik dengan cara yang baik. Tujuan yang baik, karya yang baik, memang harus dilakukan dengan cara yang baik. Dan hanya orang-orang seperti inilah yang akan mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar. Sekali lagi karena dia mampu berkarya baik dengan cara baik.

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa