👁️

Karakter Kepemimpinan Paulus

Published by Yoel M. Indrasmoro on

Karakter kepemimpinan seseorang bisa dilihat dari perkataannya. Karena Paulus hidup 20 abad sebelum kita, kita bisa meninjaunya dalam salah satu suratnya (1Tes. 2:1-8).

”Kamu sendiri pun memang tahu, Saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia.” Tampaklah, Paulus pribadi transparan. Tak ada yang disembunyikannya. Ia mengajak orang-orang yang pernah dilayaninya untuk mengambil kesimpulan mengenai pelayanannya selama di Tesalonika. Jika pelayanan Paulus sungguh tak berterima di mata warga jemaat di Tesalonika, apa yang ditulisnya akan dianggap asbun atau pencitraan.

Menariknya lagi, Paulus menggunakan ragam komunikasi tulisan. Kalau lisan, ketika ada orang yang sungguh tahu situasinya, Paulus bisa mengelak pernah mengatakannya. Paulus tak mungkin mengelak karena semuanya telah tertulis: Hitam di atas putih.

Terlihat pula bahwa Paulus pribadi terbuka. Ia siap diaudit dan mengajak pembaca suratnya untuk mengevaluasi kinerjanya. Dan Paulus berani mengatakan bahwa pelayanannya di Tesalonika tidak sia-sia. Terkesan arogan?

Selanjutnya, inilah yang akan menghapus kesan itu, Paulus menulis: ”dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat.” Paulus menyatakan bahwa kesuksesannya bukanlah karyanya sendiri. Semuanya karena pertolongan Allah.

Paulus menjadikan dirinya sebagai rekan sekerja Allah. Perhatikan kalimat selanjutnya: ”Sebab, nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya.” Inilah yang dimaksud dengan integritas.

Karena itulah, Paulus menulis, ”kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita.” Mengapa? Karena Paulus sadar benar bahwa pelayanannya adalah anugerah Allah semata.

Juga dalam pekerjaan sekuler. Jika kita percaya pekerjaan kita adalah anugerah Allah, kita juga dipanggil—ketika harus memilih—untuk lebih menyenangkan Allah ketimbang manusia. Persoalannya, sering di sini, agar jabatan langgeng, tak sedikit orang memilih menyenangkan atasan ketimbang Allah. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, bukankah itu anugerah Allah?

Paulus pun melanjutkan, ”Karena seperti yang kamu ketahui, kami tidak pernah bermulut manis dan tidak pernah mempunyai maksud serakah yang tersembunyi—Allah adalah saksi. Juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. Tetapi, kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya.”

Inilah karakter kepemimpinan Paulus selanjutnya: tidak bermulut manis, tidak serakah, tidak mencari pujian. Menarik disimak, berkait tidak bermulut manis, Paulus mengajak warga jemaat di Tesalonika sebagai saksi. Sejatinya, merekalah yang paling tahu apakah Paulus bermulut manis atau tidak.

Sedangkan sikap serakah, tentu hanya Allah yang tahu, sehingga Paulus mengajak Allah sebagai saksi. Sikap yang berani karena Allah adalah Pribadi Mahatahu. Ramah di sini adalah sikap seorang ibu, yang lemah lembut, namun tegas.

Karakter kepemimpinan lainnya adalah rela berbagi hidup. Berbagi Injil merupakan hal mulia, tetapi berbagi hidup lebih mulia lagi. Lagi pula, agaknya Paulus pun sadar, berbagi Kabar Baik hanya akan berdampak jika berdasarkan kerinduan berbagi hidup itu sendiri.

Inilah beberapa butir karakter kepemimpinan Paulus. Bagaimana dengan kita?

Yoel M. Indrasmoro

Foto Istimewa