👁️

”Yesus berkata, ’Bawalah kemari kepada-Ku’” (Mat. 14:18).

Demikianlah perintah Sang Guru kepada para murid-Nya. Perintah itu muncul karena para murid mempertanyakan kemungkinan pemberian makan kepada 5.000 orang laki-laki dengan lima roti dan ikan. Mereka sungguh bingung, terkesan frustasi, dengan titah Yesus untuk memberi makan orang banyak itu.

Ya, Hitung-hitungannya memang tidak masuk akal. Namun, mereka tak berani menawar titah Yesus. Titah Sang Guru tak mungkin ditolak. Menyaksikan sumber daya yang ada, mungkinkah titah itu dilaksanakan?

Pada titik ini perintah Yesus untuk membawa lima roti dan dua ikan itu menjadi jalan keluar yang masuk akal. Lima roti dan dua ikan yang langsung diberikan kepada orang banyak itu memang absurd, tetapi melalui Sang Guru mukjizat pun terjadi.

Sejatinya membawa lima roti dan dua ikan kepada Sang Guru berarti melibatkan Dia berkarya. Sejak semula pemberian makan kepada orang banyak itu merupakan kerinduan-Nya. Tindakan itu sesungguhnya hanya menggenapi karya Sang Guru.

Ini jugalah yang mesti dilakukan setiap orang percaya pada setiap zaman. Karya bagi sesama, seberapa pun baiknya, jangan berhenti pada upaya sendiri. Pengorbanan bagi orang lain bisa menimbulkan frustasi. Bahkan rasa kesal jika orang lain malah tidak berterima. Karena itu, pengorbanan perlu diubah menjadi pengurbanan.

Korban dan kurban memang mirip. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”korban” berarti pemberian untuk menyatakan perbuatan baik atau kesetiaan; sedangkan ”kurban” berarti persembahan kepada Allah. Ketika semua niat baik dipersembahkan kepada Allah hal-hal yang tak terbayangkan pun terjadi. Manusia dilayani, Tuhan dimuliakan.

Ya, kita perlu mengubah korban menjadi kurban!

Yoel M. Indrasmoro

Foto: Istimewa