
Berkait kereta, saya teringat dua lagu. Yang pertama lagu kanak-kanak: Naik Kereta Api. ”Naik kereta api, tut-tut-tut/Siapa hendak turut?/Ke Bandung, Surabaya/Bolehlah naik dengan percuma/Ayo kawanku lekas naik/Keretaku tak berhenti lama.”
Lagunya ceria. Sang penyanyi mengajak kawan-kawannya naik kereta apinya. Dan semuanya serbagratis. Terkesan buru-buru karena keretanya tak berhenti lama untuk mengajak anak-anak lain di stasiun berikutnya.
Sedangkan lagu kedua, lagu dewasa, balada, buah karya Frankie Sahilatua, berjudul Perjalanan, yang dinyanyikan adiknya: Jane. Dalam lagu ini Jane bercerita: Kerinduan kampung halaman, pastinya juga orang tua, membuat dia naik kereta malam.
Dalam kereta tersebut, Jane bercerita tentang seorang ibu yang duduk di depannya dan sedang berduka. Dalam refreinnya dinyatakan: ”Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang t’lah tiada/Kar’na sakit dan tak terobati/yang wajahnya mirip denganku, yang wajahnya mirip denganku.”
Kedua lagu bicara soal relasi. Dan gereja—persekutuan orang percaya—meniscayakan relasi di antara warga jemaatnya.
Dari lagu pertama, orang percaya bisa belajar untuk mengajak orang percaya lainnya menikmati apa yang sedang dinikmatinya. Dengan kata lain siap mengundang sesama untuk bersuka cita bersama kita yang sedang bersuka cita. Dengan kata lain lain, berbagi kebahagiaan.
Dari lagu kedua, orang percaya bisa belajar untuk mendengarkan orang percaya lainnya. Dalam kehidupan ada saja kisah menyedihkan yang membuat orang mungkin ingin cerita. Nah, panggilan kita adalah mendengarkan curhat mereka.
Ya, orang hanya ingin curhat kepada orang yang dia yakin mau mendengarkan ceritanya. Kalau dia enggak yakin bahwa kita mau mendengarkan ceritanya, mustahil dia akan curhat kepada kita. Karena itu, panggilan kita juga untuk bersikap tulus, tanpa basa-basi, di hadapan orang percaya lainnya, sehingga mereka berani percaya dan akhirnya curhat untuk mengurangi kesedihannya. Jadi, bukan sekadar kepo dan akan menjadikannya sebagai bahan gosip.
Memang bukan perkara gampang. Karena itu, kita belajar dari kereta untuk menyerahkan semuanya kepada Sang Lokomotif Agung. Menarik disimak hanya ada satu lokomotif dalam kareta. Artinya, gerbong-gerbong itu harus menundukkan diri pada sang lokomotif. Dan gerbong-gerbong itu tentu saling berkait dan saling mendukung, sehingga tidak ada yang tertinggal.
Inilah inti gereja: jangan sampai ada yang tertinggal, jangan sampai ada yang ketinggalan, apa lagi sengaja ditinggal.
Yoel M. Indrasmoro
Foto: Istimewa